Ketergantungan finansial kerap menjadi isu krusial bagi keberlangsungan institusi pendidikan Islam. Menghadapi tantangan ini, Pesantren Hidayatullah Tarakan bertekad kuat mewujudkan kemandirian ekonomi. Melalui inisiatif strategis, mereka mengubah lahan wakaf menjadi aset produktif yang berkelanjutan.
Dalam rangka mendukung agenda mulia tersebut, Laznas BMH Perwakilan Kalimantan Utara turun tangan. Mereka terlibat aktif dalam penanaman perdana pohon buah-buahan di lokasi tanah wakaf seluas 1,5 hektar. Aksi ini berlokasi di Angin Angin Mamburungan Timur, Kota Tarakan (12/10).

Lahan tidur itu kini bertransformasi menjadi area agrobisnis masa depan. “Di lokasi 1,5 hektar ini telah ditanami beberapa varian pohon buah-buahan, yang nantinya diharapkan menjadi penopang ekonomi pesantren,” terang M. Iqbal, pengelola wakaf produktif pesantren.
Iqbal optimistis, pengembangan ini akan berjalan sukses. Pasalnya, model pengembangan yang diusung sangat terintegrasi.
“Selain beberapa varian pohon buah-buahan di lokasi ini nantinya juga akan ditanami sayur-sayuran, hewan ternak hingga kolam ikan air tawar,” imbuh Iqbal.
Diversifikasi sumber daya ini dirancang untuk menciptakan ketahanan ekonomi pesantren.
Aksi penanaman pohon durian dan alpukat ini menandai dimulainya fase produktif wakaf.
M. Noer Komara dari BMH menjelaskan makna mendalam dari kegiatan ini. Ia melihat, menanam pohon buah di lahan wakaf adalah perpaduan amal yang istimewa.
“Setelah tadi melakukan penanaman pohon buah durian dan alpukat, insyaallah BMH akan mengajak sahabat donatur untuk terlibat, karena menanam pohon sangat dianjurkan dan sebagai bentuk sedekah jariyah karena pahalanya terus mengalir. Apalagi yang ditanam pohon buah-buahan untuk keberlangsungan pesantren tersebut,” ungkap Komara di lokasi.
Ia mengibaratkan, wakaf produktif ini sebagai ‘sumur pahala’ yang airnya tidak pernah kering, terus memberikan manfaat dunia dan akhirat.
Dengan kolaborasi antara pesantren dan Laznas BMH, lahan wakaf di Tarakan tidak lagi sekadar tanah. Ia menjadi sebuah solusi konkret yang menjanjikan masa depan cerah, mandiri, dan berkelanjutan bagi pendidikan para santri.*/Herim









































































































































































































































