Dakwah di pedalaman adalah ujian kesabaran dan tekad. Keterbatasan sarana nyatanya tak mampu memadamkan api semangat para pejuang agama. Inilah potret nyata kegigihan dai tangguh Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) di Sulawesi Barat (18/1).
Kendala Fisik Tak Surutkan Langkah
Muhammad Faqih Imamuddin adalah sosok di balik perjuangan ini. Setiap hari, beliau menempuh perjalanan menuju Desa Panetean, Kecamatan Aralle.

Beliau menggunakan sepeda motor yang kondisinya sudah tidak ideal.
Meskipun kendaraan sering bermasalah, Faqih tetap konsisten melangkah. Motor tua tersebut menjadi teman setia menembus medan Mamasa. Baginya, sarana yang terbatas bukan alasan untuk berhenti mengabdi.
“Kalau sudah anggaran lebih baik ganti, mengeras ban luarnya (kedaluarsa) sudah sering nabikin bocor ban dalam,” ungkapnya seperti ditirukan oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat, Ust. Najamuddin, mengabarkan.
Misi Mulia di Wilayah Minoritas
Selanjutnya, perjalanan berat ini membawa misi yang sangat besar. Fokus utamanya adalah membina masyarakat di daerah minoritas. Desa tersebut berada sangat jauh dari pusat kota.
Di sana, Faqih membina ibu-ibu majelis taklim dengan sabar. Beliau juga mengasuh Rumah Qur’an dan Majelis Qur’an Hidayatullah.
Kehadirannya sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan pembinaan keislaman warga.
Hasil Manis dari Perjuangan Sunyi
Kini, dedikasi tersebut membuahkan hasil yang nyata. Anak-anak pelosok mulai mengenal dan mencintai Al-Qur’an. Selain itu, para bapak rutin mendapatkan pencerahan melalui khutbah masjid.
Singkatnya, keterbatasan motor operasional tak menghambat laju dakwah. Perjuangan sunyi ini berhasil menguatkan iman di pelosok negeri.
Harapan baru pun tumbuh subur di tengah masyarakat Mamasa.*/Herim









































































































































































































































