Masa depan generasi sering dibicarakan dalam konteks besar. Padahal, ia sering ditentukan dari hal yang paling sederhana: apakah kebutuhan dasar mereka terpenuhi atau tidak. Di pesantren, kecukupan pangan menjadi fondasi agar proses belajar dan pembinaan berjalan tanpa hambatan.
Kesadaran itulah yang melatarbelakangi penyaluran beras oleh BMH ke Pondok Pesantren Giyatsul Muta’alimin, Kampung Pujuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Curug, Kota Serang, pada Jumat, 24 April 2026.

Program ini bukan sekadar bantuan rutin. Ia hadir untuk memastikan santri tetap memiliki energi dan fokus dalam menuntut ilmu, terutama dalam menghafal Al-Qur’an dan membangun karakter.
Pimpinan pesantren, Ustadz Ropih, menyampaikan rasa syukur atas bantuan tersebut.
“Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang lebih baik,” ujarnya.
Ungkapan ini bukan sekadar formalitas. Ia lahir dari pengalaman nyata. Ketika kebutuhan pangan terpenuhi, beban pengelolaan pesantren menjadi lebih ringan. Artinya, perhatian bisa lebih diarahkan pada kualitas pendidikan santri. Di sinilah zakat, infak, dan sedekah menunjukkan dampaknya: bukan hanya membantu, tetapi memperkuat sistem pembinaan.
Dampak itu juga terasa di level santri. Muhammad Arsya Rizki (11) mengungkapkan kebahagiaannya.
“Senang sekarang banyak beras di pondok. Untuk makan tidak kurang lagi,” katanya.
Pernyataan sederhana ini menjadi pengingat yang kuat. Bagi sebagian orang, beras adalah hal biasa. Namun bagi santri, ia menentukan ketenangan belajar. Dari sini terlihat bahwa berbagi benar-benar menghadirkan arti yang nyata.
Kadiv Prodaya BMH Banten, Roni Hayani, menegaskan arah program ini.
“Ketahanan pangan santri adalah kunci agar pendidikan berjalan optimal,” ujarnya singkat.
Melalui program ini, BMH menunjukkan bahwa pengelolaan zakat, infak, dan sedekah tidak berhenti pada bantuan sesaat. Ia menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan pendidikan dan menyiapkan generasi yang siap menghadapi masa depan.

Dari satu karung beras, ada dampak yang lebih besar: lahirnya ketenangan, fokus belajar, dan harapan yang terus tumbuh di ruang-ruang sederhana pesantren.*/Herim









































































































































































































































