Pada penghujung Ramadhan, ketika lantunan ayat suci masih menggema di masjid-masjid, ada harapan yang ingin dijaga agar cahaya itu tidak padam setelah hari raya berlalu. Suasana khidmat terasa di Masjid Al Fitrah, Ambon, saat jamaah berkumpul dalam sebuah momen yang sarat makna, 20 Maret 2026.
Melalui program Tebar Al-Qur’an Nusantara, Laznas BMH Maluku menyalurkan mushaf Al-Qur’an kepada jamaah, santri TPQ, dan majelis taklim yang aktif beribadah. Bantuan ini hadir di waktu yang tepat, ketika kebutuhan akan mushaf yang layak semakin terasa, terutama menjelang penutup Ramadhan dan persiapan aktivitas keagamaan pasca-Idulfitri.

Bagi para jamaah, Al-Qur’an yang diterima bukan sekadar buku. Ia menjadi teman ibadah, sumber ketenangan, dan penuntun kehidupan yang akan terus dibaca bahkan setelah Ramadhan usai.
Kepala Perwakilan BMH Maluku, Supriyanto, menyampaikan bahwa program ini dirancang sebagai penutup yang bermakna.
“Kami ingin menutup bulan mulia ini dengan sesuatu yang membekas dan berkelanjutan. Al-Qur’an yang dibagikan akan terus dibaca, dihafal, dan diamalkan meski Ramadhan telah usai,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa kebaikan Ramadhan tidak berhenti pada momentum, tetapi diupayakan agar terus hidup dalam keseharian umat.
Kegiatan Pasca Idulfitri
Pengurus Masjid Al Fitrah juga menyambut bantuan ini dengan penuh syukur. Ketersediaan mushaf yang layak dinilai sangat membantu, terutama untuk mendukung kegiatan tadarus yang masih berlangsung serta program pengajian yang akan terus berjalan setelah Idulfitri.
Dalam konteks sosial dan keagamaan, program ini memiliki dampak yang lebih luas. Al-Qur’an berfungsi sebagai pusat pembinaan spiritual. Ketika akses terhadap mushaf yang layak terpenuhi, maka kualitas ibadah dan pemahaman agama pun ikut meningkat.
Zakat, infak, dan sedekah dalam bentuk sarana ibadah seperti ini juga memiliki karakter jangka panjang. Ia tidak habis dalam sekali manfaat, tetapi terus mengalir seiring setiap ayat yang dibaca dan diamalkan.
Di Ambon, Ramadhan ditutup dengan langkah yang tenang namun kuat. Dari mushaf yang dibagikan, lahir harapan agar semangat ibadah tetap terjaga. Dan menjelang Idulfitri, kebaikan itu menemukan maknanya—bukan hanya dirasakan sesaat, tetapi terus hidup dalam setiap bacaan dan doa yang mengalir.*/Herim









































































































































































































































