Ketika beras di dapur pesantren mulai menipis, yang terdampak bukan hanya urusan makan, tetapi juga ketenangan belajar para santri. Di Pondok Pesantren Hidayatullah Kupang, situasi itu sempat terasa sebelum bantuan dari BMH datang.
Dalam situasi tersebut, Laznas BMH Nusa Tenggara Timur menyalurkan bantuan melalui program Sedekah Beras pada Senin (14/4/2026).

Bantuan ini menjadi bagian dari ikhtiar menjaga keberlangsungan aktivitas santri.
Bagi BMH, pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan bukan sekadar bantuan, tetapi fondasi agar proses pendidikan tetap berjalan dengan baik.
Kadiv Prodaya BMH NTT, Hairudin, menegaskan bahwa program Sedekah Beras dirancang sebagai program berkelanjutan untuk mendukung pesantren dan lembaga pendidikan Islam.
“Melalui program ini, kami ingin memastikan para santri bisa belajar dengan tenang tanpa khawatir kebutuhan pangan harian mereka,” ujarnya.
Dampak Bagi Santri
Dampaknya langsung dirasakan para santri. Inayah, salah satu santri, menyampaikan bahwa bantuan tersebut datang di waktu yang tepat.
“Persediaan beras di pondok memang sudah mulai menipis. Bantuan ini sangat berarti dan menambah semangat kami untuk terus belajar,” ungkapnya.
Pengasuh pesantren, Arina Yusuf, juga menyampaikan rasa syukur atas perhatian yang diberikan.
“Kami sangat bersyukur atas bantuan ini. Semoga para donatur dan tim BMH diberikan keberkahan dalam setiap kebaikan,” tuturnya.
Kehadiran bantuan ini menunjukkan bahwa dukungan sederhana dapat memberi dampak yang nyata. Ketika kebutuhan dasar terpenuhi, santri tidak hanya merasa cukup, tetapi juga lebih fokus menempuh proses belajar.
Dari dapur pesantren, terlihat bahwa sedekah yang terkelola dengan baik mampu menjaga keberlangsungan pendidikan—tenang, terarah, dan berkelanjutan.*/Herim









































































































































































































































