Ada kebahagiaan yang sulit disembunyikan ketika seorang anak bisa memilih sendiri baju Lebaran yang ia sukai. Bagi sebagian orang, itu hal biasa. Namun bagi anak yatim dan dhuafa, momen itu bisa menjadi kenangan yang sangat berharga.
Hal itulah yang terlihat saat Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Kalimantan Barat mengajak 10 anak yatim piatu dan dhuafa berbelanja baju Lebaran di Matahari Ayani Mega Mall, Pontianak, Selasa (17/03/2026).

Anak-anak yang berasal dari enam kecamatan di Kota Pontianak itu datang dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Begitu memasuki pusat perbelanjaan, mata mereka berbinar melihat deretan pakaian dan sepatu yang tertata rapi.
Sebagian anak terlihat masih canggung. Mereka berjalan pelan, sesekali menoleh, seakan memastikan bahwa semua ini benar-benar untuk mereka. Beberapa di antaranya memilih didampingi saat menentukan pilihan.
Namun ada juga yang mulai berani. Mereka menyentuh baju, mencoba sepatu, lalu tersenyum kecil saat menemukan yang sesuai dengan keinginan.
Selama sekitar dua jam, sejak pukul 10.00 hingga 12.00 WIB, suasana dipenuhi tawa dan keceriaan. Satu per satu anak akhirnya membawa pilihan mereka—baju, celana, hingga sandal baru untuk menyambut Idulfitri.
Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Kalimantan Barat, Anton Trimaryanto, menjelaskan bahwa program ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan kebahagiaan Ramadhan bagi anak-anak yatim dan dhuafa.
“Alhamdulillah di hari ke-27 Ramadhan program Belanja Bareng Yatim Dhuafa ini dapat terlaksana. Anak-anak bebas memilih pakaian dan sepatu kesukaan mereka, bahkan mendapatkan uang THR Lebaran,” ujarnya.
Kesempatan Merasakan
Bagi anak-anak tersebut, pengalaman ini bukan sekadar menerima bantuan. Mereka merasakan sesuatu yang jarang mereka dapatkan: kesempatan memilih, merasakan, dan menikmati momen seperti anak-anak lainnya.
Salah satu di antara mereka, Fachry (10), tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
“Senang banget rasanya bisa beli baju dan sandal buat Lebaran secara gratis. Makasih ustadz,” ucapnya polos.
Program ini menunjukkan bahwa zakat, infak, dan sedekah tidak hanya memenuhi kebutuhan materi. Lebih dari itu, ia mampu menghadirkan kebahagiaan yang menyentuh hati anak-anak, sekaligus memberi mereka pengalaman berharga yang akan mereka ingat hingga dewasa.
Di hari itu, di antara rak-rak pakaian dan sepatu, tersimpan satu hal yang lebih penting dari sekadar baju baru: rasa bahagia karena diperhatikan, dan keyakinan bahwa mereka juga berhak merasakan indahnya Lebaran.*/Herim









































































































































































































































