Ketahanan pangan di lingkungan pesantren bukan sekadar urusan dapur. Ia menentukan keberlangsungan proses belajar, terutama bagi santri yang fokus menghafal Al-Qur’an setiap hari.
Di titik ini, peran lembaga amil zakat seperti BMH menjadi semakin relevan. Zakat, infak, dan sedekah tidak hanya menjawab kebutuhan darurat, tetapi juga menopang sistem pendidikan. Melalui program Beras Santri, BMH menyalurkan 925 kilogram beras kepada 515 santri di Balikpapan pada 13–17 April 2026.

Bantuan tersebut menjangkau lima lembaga, yakni Usrotul Mujaddiddah, STIS Putra, PUZ, Rumah Tahfidz Assofwah, dan Rumah Tahfidz Diyaul Arsy. Seluruhnya memiliki fokus pada pembinaan generasi Qur’ani.
“Santri adalah aset penting bangsa. Mereka tidak hanya belajar agama, tetapi juga membangun karakter, disiplin, dan ketahanan mental. Dalam jangka panjang, mereka berpotensi menjadi penggerak nilai, penjaga moral, dan bagian dari solusi sosial di tengah masyarakat,” ungkap Kadiv Prodaya BMH Kaltim, Achmad Rifa’i.
Namun, proses itu membutuhkan dukungan dasar yang kuat. Tanpa kecukupan pangan, konsentrasi belajar akan terganggu. Karena itu, intervensi sederhana seperti bantuan beras justru memiliki dampak yang luas.
“Jadi, bantuan ini bukan hanya memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga mendukung lahirnya generasi penghafal Al-Qur’an,” ujarnya.
Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar, santri dapat belajar lebih fokus. Mereka tidak lagi terbebani oleh hal-hal mendasar yang seharusnya bisa dipenuhi bersama.

Dari program ini terlihat arah yang jelas. Pengelolaan zakat yang tepat mampu menghubungkan kebutuhan hari ini dengan kualitas masa depan. Ketika santri dikuatkan, yang sedang dijaga bukan hanya proses belajar, tetapi juga fondasi nilai yang akan hidup di masyarakat dalam jangka panjang.*/Herim









































































































































































































































