Pertemuan para dai dari berbagai daerah di Indonesia dalam Silaturrahim Syawal 1447 H Hidayatullah bukan sekadar ajang temu kangen. Forum ini menjadi ruang penyegaran arah dakwah, sekaligus penguatan semangat di tengah tantangan zaman yang terus berubah.
Dalam forum yang berlangsung hangat tersebut, BMH hadir mendukung terselenggaranya kegiatan, memastikan bahwa para dai memiliki ruang untuk bertemu, berdiskusi, dan memperbarui energi perjuangan mereka.

Diskusi yang berkembang tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga strategi dakwah ke depan. Ketaatan spiritual ditegaskan sebagai fondasi utama yang menyatukan gerak organisasi.
Dai yang juga Ketua DPW Hidayatullah Papua Barat, Muhammad Rusydan, menekankan hal tersebut dengan sederhana namun mendasar.
“Intinya adalah ketaatan, dan di situlah ruh sesungguhnya,” ujarnya.
Dari titik ini, pembahasan bergerak ke arah yang lebih strategis. Tantangan dakwah hari ini tidak lagi bisa dijawab dengan cara konvensional. Rekrutmen dai dan pola kaderisasi perlu dikelola secara sistematis dan adaptif.
Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara, Lutfiuddin, melihat peluang besar di era digital.
“Pencapaian rekrutmen kita akan meloncat jika pembinaan dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Sementara itu, Irsyad Istoyo, Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Selatan, menyoroti pentingnya pendekatan kepemimpinan yang lebih dialogis terhadap generasi muda.
“Pemimpin harus memberikan support kepada para dai muda, dampingi dia, dan ajak dia dialog,” pesannya.
Peran Relevan BMH
Rangkaian gagasan tersebut menunjukkan bahwa dakwah hari ini membutuhkan keseimbangan antara kekuatan spiritual dan ketepatan strategi. Di sinilah peran BMH menjadi relevan.
Melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, BMH tidak hanya menghadirkan bantuan fisik, tetapi juga mendukung ruang-ruang penguatan seperti forum ini. ZIS menjadi energi yang memungkinkan para dai berkumpul, bertukar gagasan, dan memperkuat visi bersama.
Kepala BMH Perwakilan Kalimantan Timur, M. Rofiq, menegaskan bahwa dukungan terhadap kegiatan semacam ini merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan dakwah.
“Terlebih Silaturahim Syawal juga menjadi ruang “reset bersama” setelah Ramadhan. Pengalaman lapangan yang beragam penting bertemu, guna memperbarui gagasan dan menghadirkan inovasi dakwah yang semakin kompleks tantangannya,” ucapnya.
Forum ini menjadi bukti bahwa zakat, infak, dan sedekah tidak hanya menjawab kebutuhan material, tetapi juga menyegarkan kesadaran dan semangat para dai dalam menjalankan perannya.
Dari Balikpapan, satu pesan menguat: ketika para dai dikuatkan, maka yang sedang dibangun bukan hanya gerakan dakwah, tetapi juga masa depan masyarakat yang lebih cerdas dan berdaya.*/Herim









































































































































































































































