Di balik lantunan ayat suci yang menggema di pesantren-pesantren Jawa Barat, ada kebutuhan dasar yang tak boleh alpa: kesehatan fisik. Sejatinya, pendidikan yang utuh tidak hanya soal kurikulum yang baik, tetapi juga asupan gizi yang terjaga. Tanpa energi yang cukup, konsentrasi akan luruh, dan semangat belajar pun redup.
Menyadari hal ini, LAZNAS Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Jawa Barat kembali bergerak menyalurkan 22 karung beras pada Selasa (28/4/2026).

Program ini bukan sekadar bantuan pangan biasa, melainkan upaya memastikan keberlangsungan pendidikan santri melalui standar logistik yang sehat dan layak.
Gizi Baik, Ibadah Jadi Berkualitas
Secara biologis, karbohidrat dari beras adalah sumber energi utama bagi otak. Saat kebutuhan dasar ini terpenuhi dengan standar yang baik, para santri seperti Silma dari Rumah Qur’an Nurul Hasna, Arcamanik, bisa belajar dengan tenang.
“Bantuan ini sangat berarti. Kami jadi bisa lebih fokus menghafal tanpa perlu risau esok makan apa,” ungkap Silma.
Donasi dari para donatur kini bertransformasi menjadi kesehatan fisik bagi para santri. Dengan tubuh yang sehat dan bugar, mereka mampu menyerap ilmu dengan lebih optimal—sebuah bukti bahwa kedermawanan publik adalah motor penggerak lahirnya generasi emas yang kuat secara intelektual dan spiritual.
Siklus Kebaikan yang Berkelanjutan
Uniknya, beras yang disalurkan ini merupakan hasil pemberdayaan petani lokal binaan BMH di Kampung Cisema, Kabupaten Bandung. Yusep Suhendar, Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Barat, menegaskan bahwa pola ini menciptakan ekosistem kebaikan yang utuh.
“Kami ingin setiap rupiah dari donatur memberikan manfaat ganda. Santri mendapatkan asupan pangan sehat untuk mendukung studinya, sementara petani lokal kita berdaya secara ekonomi. Ini adalah cara kita membangun bangsa dari hal paling mendasar: perut yang kenyang dengan makanan sehat,” tutur Yusep.
Melalui program ini, BMH mengajak semua pihak untuk melihat sedekah dengan cara baru. Bahwa setiap butir beras yang Anda berikan adalah investasi pada kesehatan jantung, otot, dan otak para pejuang Al-Qur’an. Sebuah kolaborasi yang menjamin bahwa pendidikan dan kesehatan harus berjalan beriringan demi masa depan yang lebih cerah.*/Herim









































































































































































































































