Ramadhan selalu menghadirkan cara-cara sederhana untuk menumbuhkan kebahagiaan. Di Kudus, kebahagiaan itu hadir di lorong-lorong swalayan, saat puluhan anak yatim dhuafa memilih sendiri kebutuhan mereka untuk menyambut Idul Fitri.
Pada Ahad, 14 Maret 2026, Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) mengajak 39 anak yatim dhuafa binaan untuk mengikuti program Belanja Berkah di Abbas Mart, Kabupaten Kudus. Mereka diberi kesempatan untuk memilih barang sesuai kebutuhan dan keinginan mereka.

Kebahagiaan Sederhana yang Menguatkan
Sejak memasuki swalayan, wajah-wajah ceria langsung terlihat. Anak-anak berjalan menyusuri rak-rak, sebagian masih ragu, sebagian lain mulai percaya diri memilih barang.
Davin Emir Majid (9), siswa kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah, mengungkapkan kegembiraannya.
“Saya senang belanja mengambil sendiri,” ujarnya sambil memegang perlengkapan sekolah dan jajanan pilihannya.
Momen ini terlihat sederhana. Namun bagi anak-anak yatim dhuafa, pengalaman memilih sendiri kebutuhan mereka menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Zakat yang Menghadirkan Rasa Percaya Diri
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Belanja Berkah Bersama Yatim Dhuafa yang rutin digelar BMH setiap Ramadhan. Program ini terlaksana berkat dukungan para donatur serta kolaborasi dengan pelaku usaha lokal.
Koordinator ULZ BMH Kudus, Eko Kusniyanto, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk penyaluran zakat yang tepat sasaran.

“Program ini berjalan setiap Ramadhan. Kami menghadirkan kebahagiaan bagi yatim dhuafa dari zakat yang diamanahkan kepada kami,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa BMH berkomitmen menyalurkan zakat secara profesional dan sesuai dengan ketentuan penerima manfaat.
Membangkitkan Optimisme Anak-anak
Secara empiris, pengalaman seperti ini memiliki dampak psikologis yang kuat bagi anak-anak. Ketika mereka diberi ruang untuk memilih, mereka belajar merasa dihargai dan dipercaya.
“Rasa memiliki terhadap barang yang dipilih sendiri juga membangun kepercayaan diri. Hal ini penting bagi anak-anak yatim dhuafa yang sering kali tumbuh dalam keterbatasan,” ungkap Eko.
Kebahagiaan yang mereka rasakan bukan hanya karena barang yang didapat. Ia lahir dari pengalaman yang memanusiakan, memberi ruang bagi mereka untuk merasakan hal yang sama seperti anak-anak lainnya.
Dalam konteks pendidikan sosial, pengalaman ini berperan dalam membangun optimisme. Anak-anak belajar bahwa masa depan mereka tetap memiliki harapan. Mereka merasakan bahwa ada banyak pihak yang peduli dan mendukung mereka.

Di Kudus, Ramadhan kembali menunjukkan maknanya. Zakat, infak, dan sedekah tidak hanya memenuhi kebutuhan lahir. Ia juga menyentuh sisi batin, menumbuhkan rasa percaya diri, dan menghidupkan harapan di hati anak-anak.*/Herim









































































































































































































































