Di sebuah sudut tenang kawasan Angin-angin, Mamburungan Timur, hamparan lahan seluas hampir dua hektar kini tak lagi sekadar lahan tanaman buah. Di atas lahan wakaf produktif milik Pesantren Hidayatullah Tarakan ini, harapan baru sedang disemai. Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) baru saja memulai langkah strategis: membangun sebuah green house sebagai jantung pusat pembibitan sayuran.
Langkah ini bukan sekadar urusan tanam-menanam. Ini adalah upaya serius memutus ketergantungan dan membangun kedaulatan pangan dari dalam pesantren.

Sentuhan Inovasi di Atas Lahan Produktif
Selama ini, lahan tersebut memang telah hijau oleh berbagai pohon buah. Namun, BMH melihat potensi yang lebih besar. Dengan membangun unit green house berukuran , fokus beralih ke komoditas yang memiliki perputaran ekonomi cepat dan dibutuhkan pasar harian: sayuran daun, daun bawang, hingga seledri.
M. Noer Komara, perwakilan BMH Kalimantan Utara, menegaskan bahwa proyek ini adalah investasi jangka panjang untuk martabat pesantren.
“Kami ingin melihat pesantren tidak hanya menjadi pusat ilmu, tapi juga menjadi lembaga yang berdaya secara ekonomi. Green house ini adalah simbol harapan agar kelak pesantren mampu berdiri di atas kaki sendiri,” ujarnya saat meninjau lokasi.
Optimisme di Garis Depan
Semangat yang sama terpancar dari wajah M. Iqbal, sang pengelola wakaf produktif. Baginya, dukungan BMH dan para donatur adalah bahan bakar yang mengubah optimisme menjadi aksi nyata. Ia percaya bahwa apa yang ditanam hari ini adalah pondasi bagi ekosistem ekonomi pesantren di masa depan.
“Investasi hari ini akan berbuah hasil beberapa waktu ke depan. Ini bukan sekadar kebun, tapi akan menjadi ekosistem penopang ekonomi kemandirian kami,” tutur Iqbal dengan nada penuh semangat.
Zakat yang Menghidupkan
Melalui program ini, BMH kembali membuktikan bahwa dana zakat, infak, dan sedekah yang dikelola secara profesional mampu menciptakan dampak berantai (multiplier effect). Tak hanya menghijaukan lahan, program ini juga menghidupkan harapan para santri untuk belajar tentang kewirausahaan pertanian modern.

Di tengah tantangan ekonomi global, inisiatif BMH di Tarakan ini menjadi oase—sebuah bukti nyata bahwa kolaborasi antara kedermawanan masyarakat dan pengelolaan wakaf yang produktif dapat melahirkan solusi konkret bagi umat.*/Herim









































































































































































































































