Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Penerangan Agama Islam (Penais) melepas 1.500 dai ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) pada Senin, 16 Februari 2026. Program ini Kemenag jalankan secara kolaboratif bersama Hidayatullah dan Laznas BMH di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta (16/2).
Direktur Penais, Dr. Muchlis M. Hanafi, menegaskan bahwa pengiriman dai tidak boleh dipahami sebagai kegiatan seremonial tahunan. Ia menilai program tersebut memiliki dimensi strategis dalam membangun ketahanan mental dan spiritual masyarakat di tengah dinamika global.

“Ini bukan sekadar acara biasa. Kita sedang meletakkan tonggak peradaban Al-Qur’an,” ujar Muchlis dalam sambutannya.
Ia menjelaskan bahwa dunia sedang menghadapi volatilitas tinggi akibat perubahan tatanan global. Kondisi tersebut, menurutnya, berdampak pada tekanan ekonomi domestik dan meningkatnya sensitivitas sosial masyarakat.
“Kita hidup di era yang tidak sedang baik-baik saja, baik secara global maupun nasional. Masyarakat kita perlu didampingi dan diadvokasi secara moral,” tegasnya.
Program yang Berkelanjutan dan Semakin Meningkat
Program pengiriman dai ke wilayah 3T telah berjalan selama lima tahun terakhir. Tahun ini jumlah dai meningkat signifikan berkat kolaborasi dengan organisasi kemasyarakatan Islam. Jika tahun sebelumnya jumlah dai sekitar 970 orang, tahun ini totalnya melampaui 2.500 orang.
Muchlis menyampaikan apresiasi kepada Hidayatullah yang mengirimkan 1.500 dai tangguh ke berbagai daerah.
“Hidayatullah menjadi kontributor terbesar tahun ini. Terima kasih atas komitmen dan kontribusinya,” ucapnya.
Bagi Laznas BMH, pengiriman dai bukan program baru. Sejak Hidayatullah berdiri dan BMH didirikan, dakwah di pelosok telah menjadi bagian dari gerakan yang konsisten. BMH selama ini menopang aktivitas para dai melalui dukungan zakat, infak, dan sedekah umat.
Kolaborasi dengan Kemenag memperluas jangkauan program yang telah lama berjalan tersebut. BMH memandang sinergi ini sebagai penguatan peran umat dalam menghadirkan negara hingga ke sudut terjauh republik.
Muchlis menegaskan bahwa negara memiliki keterbatasan dalam menjangkau seluruh wilayah. Ia menyebut jaringan ormas sebagai kekuatan strategis yang perlu diperluas kolaborasinya.

“Negara sebesar apa pun pasti memiliki keterbatasan. Ormas memiliki jaringan yang luar biasa. Mari kita perluas kolaborasinya,” ajaknya.
Melalui sinergi Kemenag, Hidayatullah, dan BMH, pengiriman 1.500 dai menjadi bukti kehadiran negara dan umat di wilayah perbatasan dan daerah 3T.
“Program ini diharapkan memperkuat persatuan bangsa sekaligus menjaga ketahanan spiritual masyarakat di tengah tantangan zaman,” tutup Dirut BMH Supendi di lokasi acara.*/Herim









































































































































































































































