Duka mendalam menyelimuti Ibu Desi (43) selama lebih dari 40 hari terakhir. Sejak banjir bandang menerjang Desa Seumadam pada 26 November 2025, ia harus bertahan di tenda pengungsian. Rumah kayu miliknya hanyut terseret arus sejauh 20 meter, menyisakan trauma luar biasa bagi keluarganya.
Saat bencana terjadi, air naik begitu cepat hingga setinggi pinggul. Ibu Desi hanya sempat menyelamatkan ketiga anaknya. Dalam kegelapan dan hujan deras, mereka mengungsi ke dataran tinggi tanpa membawa harta benda.

Kondisi ekonomi yang sulit membuat Ibu Desi sempat kehilangan harapan. Jangankan membeli material bangunan, untuk kebutuhan pangan sehari-hari pun mereka masih bergantung pada bantuan.
Hal ini dikonfirmasi oleh Jamal, Imam dusun setempat, yang menyebut keluarga Ibu Desi sebagai kelompok paling rentan. Bahkan, untuk membeli paku bangunan pun mereka tidak memiliki biaya.
Inovasi Recycle House: Solusi Berkelanjutan
Menanggapi krisis tersebut, LAZNAS Baitul Maal Hidayatullah (BMH) hadir membawa perubahan nyata. Melalui program Recycle House, BMH mulai merehabilitasi rumah warga terdampak di Aceh Tamiang. Sebanyak 100 unit rumah rusak berat menjadi prioritas utama pada tahap pertama ini.
“Kami memulai pengerjaan tiga rumah hari ini, termasuk milik Ibu Desi,” ujar Syamsuddin, Direktur Program dan Pendayagunaan BMH, pada 6 November 2026.
Program ini mengusung konsep unik yang mengedepankan efisiensi. Material rumah lama yang masih layak pakai digunakan kembali guna menekan biaya. Selain itu, skema padat karya diterapkan untuk melibatkan partisipasi aktif warga lokal dalam proses pembangunan.
Relevansi dengan SDGs
Langkah BMH ini merupakan manifestasi nyata dari poin-poin Sustainable Development Goals (SDGs).
“Program Recycle House merupakan langkah nyata BMH dalam mengimplementasikan pilar SDGs, mulai dari pengentasan kemiskinan melalui penyediaan hunian gratis bagi warga rentan, hingga perwujudan pemukiman berkelanjutan yang tangguh pascabencana. Kami juga menerapkan prinsip konsumsi bertanggung jawab dengan mendaur ulang material layak pakai demi efisiensi lingkungan. Melalui sinergi ini, kami tidak hanya membangun fisik rumah, tetapi juga memulihkan martabat dan kemandirian ekonomi penyintas secara menyeluruh,” jelas Syamsuddin.

Dengan demikian, melalui kolaborasi dengan berbagai stakeholders, BMH tidak hanya membangun fisik bangunan. BMH juga memulihkan martabat dan kesehatan mental para penyintas.
Kini, Ibu Desi tidak perlu lagi menatap langit dengan kecemasan akan dinginnya malam di tenda pengungsian.*/Herim









































































































































































































































