Dalam penghujung Ramadhan, suasana haru terasa di sejumlah sudut Kalimantan Barat. Zakat fitrah tidak hanya disalurkan, tetapi diantarkan langsung ke pintu-pintu rumah warga yang membutuhkan.
Pada Kamis, 19 Maret 2026, Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Kalimantan Barat menyalurkan 30 paket Berkah Fitrah secara door to door. Bantuan ini menyasar para mustahik, termasuk santri binaan yang tidak mudik dan tetap menjalani Ramadhan di tempat belajar mereka.

Program ini menunjukkan bahwa zakat tidak hanya soal distribusi, tetapi juga tentang cara menyampaikan kepedulian dengan lebih bermartabat dan menyentuh.
Kadiv Program dan Pendayagunaan BMH Kalbar, Anton Trimaryanto, menjelaskan bahwa penyaluran dilakukan secara bertahap hingga malam takbiran.
“Kami berharap zakat fitrah ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.
Dimensi Luas
Penegasan ini memperlihatkan bahwa zakat fitrah memiliki dimensi yang lebih luas. Ia tidak hanya memenuhi kewajiban ibadah, tetapi juga menjadi sarana memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Metode door to door yang digunakan menjadi pendekatan yang relevan. Dengan mendatangi langsung penerima manfaat, zakat disalurkan dengan lebih tepat sasaran sekaligus menjaga kehormatan mereka.
Salah satu penerima manfaat, Rohana (68), mengungkapkan rasa syukurnya dengan penuh haru.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur menerima bantuan ini. Semoga para donatur diberikan kesehatan dan rezeki yang berlimpah,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Hadirkan Ketenangan Batin
Ungkapan ini menegaskan bahwa zakat fitrah tidak hanya berdampak pada kebutuhan fisik. Ia juga menghadirkan ketenangan batin dan rasa dihargai bagi para penerima.
Dalam perspektif sosial, penyaluran zakat dengan pendekatan langsung seperti ini memiliki dampak yang kuat. Ia membangun kedekatan emosional antara pemberi dan penerima, sekaligus memastikan bantuan benar-benar sampai kepada yang berhak.
Zakat, infak, dan sedekah dalam konteks ini berfungsi sebagai instrumen penguat solidaritas. Ia menghubungkan kepedulian umat dengan kebutuhan riil masyarakat, bahkan hingga ke rumah-rumah yang mungkin tidak terlihat.

Di Kalimantan Barat, Ramadhan kembali membuktikan bahwa kebermaknaan zakat tidak hanya terletak pada jumlah yang disalurkan. Ia hadir dalam cara yang memanusiakan, menguatkan, dan menghadirkan harapan.
Dari satu pintu ke pintu lainnya, kebaikan itu bergerak. Membawa manfaat, menumbuhkan rasa syukur, dan mempererat ikatan kemanusiaan di tengah masyarakat.*/Herim









































































































































































































































