Pada akhir suasana Ramadhan, Pondok Pesantren Hidayatullah Kupang tidak hanya diisi dengan ibadah, tetapi juga dengan pembelajaran nyata tentang makna berbagi. Di tempat ini, zakat tidak sekadar disalurkan, tetapi dihadirkan sebagai pengalaman yang membentuk kesadaran sosial para santri.
Pada Rabu, 8 Maret 2026, Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menyalurkan 10 paket Berkah Fitrah Plus sembako kepada santri yatim dan dhuafa. Bantuan ini menjadi bagian dari upaya memastikan zakat tepat sasaran sesuai dengan kategori penerima yang berhak.

Program ini menunjukkan bahwa penyaluran zakat memiliki dimensi yang lebih luas. Ia tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga menjadi sarana pendidikan sosial bagi generasi muda.
Dampak Langsung
Ustadz Usman Mamang menyampaikan bahwa kegiatan ini memberi dampak langsung dalam membangun kesadaran para santri.
“Kegiatan ini menjadi bagian dari edukasi kepada siswa tentang kepedulian kepada sesama,” ujarnya.
Penegasan ini menunjukkan bahwa zakat dapat menjadi media pembelajaran yang efektif. Ketika santri menyaksikan dan merasakan langsung proses berbagi, nilai empati dan solidaritas tumbuh secara alami.
Hal senada disampaikan oleh Ketua Panitia Ramadhan, Ustadz Abdul Gaos. Ia menilai aksi nyata seperti ini mampu menginspirasi lingkungan pesantren.
“Dengan aksi kebaikan ini, kami dan para santri terinspirasi untuk saling berbagi kepada sesama,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa program ini tidak berhenti pada penerima manfaat. Ia menciptakan efek berantai yang mendorong lahirnya kepedulian baru di tengah komunitas.
Kadiv Prodaya BMH NTT, Hairudin, menjelaskan bahwa program Berkah Fitrah merupakan bagian dari gerakan zakat yang lebih luas.
“Kami berharap kolaborasi antarlembaga dapat mendorong gerakan zakat menjadi lebih luas dan massif,” jelasnya.
Dalam perspektif sosial, program seperti ini memiliki nilai strategis. Zakat, infak, dan sedekah tidak hanya berfungsi sebagai bantuan konsumtif, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan karakter dan penguatan solidaritas.
Dampak Berlapis
Ketika bantuan disalurkan di lingkungan pendidikan, dampaknya menjadi berlapis. Kebutuhan penerima terpenuhi, sementara generasi muda belajar tentang makna berbagi secara langsung.

Di Kupang, Ramadhan kembali menunjukkan bahwa kebermaknaan zakat tidak hanya terletak pada jumlah yang disalurkan. Ia terletak pada dampak yang ditinggalkan, yaitu tumbuhnya kepedulian, menguatnya kebersamaan, dan lahirnya generasi yang lebih peduli terhadap sesama.
Dari sebuah paket sederhana, lahir pelajaran besar tentang arti berbagi dan tanggung jawab sosial yang akan terus hidup di masa depan.*/Herim









































































































































































































































