Di tengah hiruk-pikuk dunia yang serba digital, tradisi aqiqah masih menjadi salah satu bentuk ibadah yang memperkuat jaringan sosial. Hari ini (29/1), tiga ekor kambing disembelih di Pesantren Hidayatullah, Jelarai, Bulungan, Kalimantan Utara, bukan hanya sebagai ritual kelahiran, tapi juga sebagai saluran keberkahan yang menyatukan santri, warga sekitar, dan keluarga yang sedang bersyukur.
Inisiatif ini digagas oleh Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Kalimantan Utara, atas nama dua anak: Micha Natasha Kurnia dan Micho Alexi Gili Kurniawan. Daging aqiqah—yang dalam tradisi Islam disunnahkan sebagai ungkapan syukur atas kelahiran anak—dibagikan secara merata kepada komunitas pesantren dan lingkungan sekitar.

Menurut Amin Umar, Kepala Unit Layanan Zakat (ULZ) BMH Bulungan, aqiqah bukan sekadar penyembelihan hewan.
“Ini adalah sunnah muakkad yang sarat makna,” ujarnya.
“Ini adalah wujud syukur kepada Allah SWT. Aqiqah juga dipercaya menjadi pelindung spiritual bagi sang anak. Kemudian juga menjadi sarana mempererat silaturahmi melalui berbagi makanan.”
Dalam perspektif sosial, praktik seperti ini memiliki dampak nyata. Yakni menghidupkan ekonomi mikro lokal (mulai dari peternak hingga tukang masak). Kemudian memperkuat solidaritas komunitas, dan menanamkan nilai kedermawanan sejak dini. Khususnya bagi keluarga yang beraqiqah.
Mazlis, pengurus Pesantren Hidayatullah, menyampaikan rasa syukurnya. “Semoga keluarga yang menunaikan aqiqah diberi kelimpahan rezeki dan keberkahan dalam mendidik putra-putrinya,” doanya.
Dalam tantangan sosial yang semakin individualistik, aqiqah, menjadi pengingat bahwa syukur terbaik adalah yang dibagi.*/Herim









































































































































































































































