Lumpur masih tersisa di sela-sela batu dan kayu yang terseret arus pascabanjir bandang beberapa pekan lalu. Di Dusun Denpasar 1, Desa Alur Selebu, Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang aroma tanah basah dan debu bercampur dengan hiruk-pikuk aktivitas warga.
Di salah satu sudut dusun, tim relawan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersiap membagikan ratusan porsi makanan hangat kepada para penyintas bencana.

Ekspresi lelah namun penuh harap terpancar dari wajah warga. Mereka rela antre meskipun becek masih menyelimuti jalan menuju tempat pembagian.
Menyasar Langsung Kebutuhan Pangan
Hari ini, Senin (15/12), 500 porsi makanan siap saji diserahkan kepada para keluarga terdampak sebagai bagian dari program SPPB — Stasiun Pelayanan Penyintas Bencana yang digerakkan oleh BMH.
Program ini telah berjalan sejak 8 Desember 2025 di berbagai titik di Aceh Tamiang, menyasar langsung kebutuhan pangan warga yang masih berada dalam masa tanggap darurat.
Program SPPB didesain seperti “warung keliling”. Relawan menggunakan mobil pick up untuk mendekati titik-titik warga terdampak. Bedanya, ini 100% gratis.
Nasi disimpan di dalam termos besar agar tetap panas saat dibagikan, sementara lauk-pauk — seperti sayur, ikan, telur, dan sambal — disiapkan dalam wadah terpisah. Ketika distribusi berlangsung, relawan membungkus sesuai permintaan warga agar makanan yang diterima benar-benar sesuai kebutuhan tiap keluarga.

“Konsepnya agar masyarakat tidak hanya mendapat makanan, tetapi makanan hangat, sehat, dan layak konsumsi,” ujar salah satu relawan yang turun ke lapangan.
Berkelanjutan
Relawan BMH, Hengky, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar distribusi logistik, tetapi juga bagian dari kepedulian kemanusiaan yang berkelanjutan.
“Program ini kami jalankan setiap hari sampai batas waktu yang belum ditentukan, karena saudara-saudara kita masih banyak yang membutuhkan,” katanya.
Banyak penyintas yang belum sepenuhnya pulih. Beberapa akses jalan masih sulit dilalui, dan kebutuhan mendasar seperti air bersih, makanan, dan sanitasi masih menjadi tantangan di sejumlah titik desa.
Salah satu warga penerima manfaat, Ibu Sakinah, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran layanan ini.
“Terima kasih kepada BMH dan para relawan. Makanan hangat ini sangat berarti bagi kami. Karena sejak kejadian banjir, kami sering hanya menerima bantuan yang dingin atau kurang layak,” ujarnya dengan suara haru.
Bagian dari Jawaban
Kondisi Aceh Tamiang pascabanjir memang masih dalam masa pemulihan. Pemerintah daerah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus menyalurkan berbagai bentuk bantuan logistik dan peralatan ke wilayah terdampak.
Kepala BNPB menyatakan bahwa pemerintah pusat berkomitmen membantu pemulihan kabupaten ini semaksimal mungkin. Terutama setelah Presiden memerintahkan dukungan penuh bagi warga terdampak.

Namun, kebutuhan di lapangan masih besar dan membutuhkan dukungan semua pihak, termasuk lembaga kemanusiaan seperti BMH.
Program SPPB BMH menjadi salah satu jawaban nyata atas kebutuhan pangan harian warga di tengah fase awal pemulihan pascabanjir. Lebih dari sekadar makanan, kehadiran tim relawan di tengah warga membawa kehangatan baru. Ini menjadi penguat bagi warga dalam menghadapi tantangan yang masih harus dilalui bersama.*Srj









































































































































































































































