Menjaga Nyala Pelita di Pesantren Bilik: Saat Beras Menjadi Penopang Mimpi Santri Dhuafa

January 28, 2026

Di sudut Lingkungan Malang Nengah Lebak, Kelurahan Pancalaksana, sebuah perjuangan sunyi telah berlangsung selama seperempat abad. Sejak tahun 2001, Pondok Pesantren Nurul Amin Awaliyah berdiri tegak dengan dinding bilik bambu dan kayu yang kini mulai rapuh dimakan usia. Namun, di balik dinding yang kian menua itu, tersimpan tekad besar untuk mencerdaskan anak-anak yatim dan dhuafa.

Pada Selasa (27/1), Laznas BMH Perwakilan Banten melakukan langkah nyata dengan menyambangi pesantren ini. Bukan sekadar kunjungan biasa, BMH hadir untuk melakukan asesmen mendalam terhadap program “Beras untuk Santri”—sebuah inisiatif yang menyentuh persoalan paling mendasar dalam pendidikan: ketersediaan pangan bagi para pencari ilmu.

Khidmat Tanpa Tarif: Beban Mulia sang Guru

Pesantren Nurul Amin Awaliyah bukanlah institusi komersial. Di bawah asuhan Ustadz Muhammad Ujer, pesantren ini mengabdikan diri sepenuhnya untuk anak-anak yang kurang beruntung. Tidak ada tarif bulanan yang mengikat; semua dibayar seikhlasnya. Bahkan, bagi banyak santri yatim, harapan mereka sepenuhnya bergantung pada pundak sang Ustadz karena keluarga mereka tak mampu mengirimkan biaya sepeser pun.

“Semua kebutuhan makan santri kami usahakan sebisanya. Namun, jujur saja, terkadang kondisi kami sangat terbatas,” ungkap Ustadz Ujer dengan nada rendah namun penuh ketulusan. Saat ini, beliau bahkan tengah berikhtiar membangun gedung permanen secara swadaya agar para santri tak lagi dihantui rasa was-was saat hujan turun membasahi dinding bambu mereka.

Suara dari Meja Makan Santri

Kebutuhan pokok di pesantren ini sangat nyata. Dengan 30 santri (20 putra dan 10 putri), setidaknya diperlukan 150 kg beras setiap bulannya untuk memastikan dapur tetap mengepul.

Realitas pahit ini diamini oleh Muhammad Fikri Maulana (12), salah satu santri yang sudah merasakan pahit manisnya menuntut ilmu di sana. “Ustadz sering kesusahan mencarikan beras untuk kami makan,” tutur Fikri polos. Kesaksian singkat ini menjadi peringatan bagi kita bahwa di tengah semangat belajar yang membara, ada perut-perut yang seringkali harus menahan lapar.

BMH: Memastikan Pendidikan Tak Terhenti karena Lapar

Kehadiran Laznas BMH Banten bertujuan untuk memutus rantai kesulitan tersebut. Bantuan beras bukan sekadar urusan perut, melainkan upaya menjaga fokus dan konsentrasi para santri agar tetap maksimal dalam menghafal Al-Qur’an dan mempelajari kitab.

“Kami melihat ada pengabdian luar biasa di sini. Ustadz Ujer sudah memberikan segalanya—ilmu, waktu, bahkan menanggung hidup anak yatim. Kini giliran kita, para dermawan, untuk hadir meringankan beban beliau melalui sedekah beras,” ujar perwakilan BMH Banten di lokasi.

Melalui program ini, BMH mengajak seluruh lapisan masyarakat dan para muhsinin untuk menjadi bagian dari solusi. Dengan memastikan stok beras tersedia, kita sedang berinvestasi pada masa depan 30 anak bangsa agar mereka tetap bisa bermimpi besar, meski berasal dari balik dinding bilik bambu.*/Herim

Rekomendasi lainnya dari BMH:

Rekomendasi lainnya dari BMH:

Menjaga Nyala Pelita di Pesantren Bilik: Saat Beras Menjadi Penopang Mimpi Santri Dhuafa

January 28, 2026

Rekomendasi lainnya dari BMH:

Rekomendasi lainnya dari BMH:

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) merupakan lembaga amil zakat yang bergerak dalam penghimpunan dana zakat, infaq, sedekah, wakaf dan hibah berikut dana sosial kemanusiaan dan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, serta melakukan distribusi melalui program pendidikan, dakwah, sosial kemanusiaan, dan ekonomi secara nasional.

Kalibata Office Park

Jalan Raya Pasar Minggu No.21 No. Blok H RT.5, RT.1/RW.8, Kalibata, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12780, Indonesia.

© 2026 Baitul Maal Hidayatullah. All Rights Reserved.