Air mata Pak Mammud jatuh pelan di sudut masjid pedalaman Halmahera. Ia menyaksikan seorang pemuda dari komunitas mualaf suku Togutil berdiri menyampaikan tausiyah dengan bacaan Al-Qur’an yang fasih dan penuh penghayatan. “Kami yang lebih dulu mengenal Islam justru merasa malu. Islamnya lebih baik, ilmunya lebih dalam,” ucapnya lirih.
Momentum itu terjadi dalam rangkaian Program Safari Dakwah Ramadhan yang digelar Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Maluku Utara pada 27 Februari 2026. Kegiatan ini menyasar masjid-masjid di pelosok pedalaman Halmahera yang selama ini membutuhkan penguatan pembinaan keislaman.

Sosok yang menyentuh hati jamaah adalah Rahmat, dai muda asal suku Togutil. Ia baru kembali ke Halmahera setelah delapan tahun menempuh pendidikan pesantren di Pulau Jawa. Ramadhan tahun ini menjadi pengalaman pertamanya terlibat langsung dalam Safari Dakwah ke desa-desa terpencil.
Pada malam kesepuluh Ramadhan, Rahmat menyampaikan tausiyah ba’da Isya dan Tarawih di salah satu masjid pedalaman. Ia berbicara dengan tenang dan santun. Ia melantunkan ayat-ayat suci dengan tartil dan merdu. Jamaah menyimak dalam suasana hening dan khusyuk.
Delapan Tahun Belajar
Kepala Perwakilan BMH Maluku Utara, Nurhadi, menjelaskan bahwa Rahmat merupakan binaan dakwah pedalaman yang didampingi sejak awal proses keislamannya.
“Delapan tahun lalu kami fasilitasi pendidikan pesantren di Jawa. Bulan lalu ia kembali ke Halmahera. Kami mengajaknya ikut Safari Dakwah karena pelosok sangat membutuhkan dai yang memahami kondisi masyarakat dan mampu membimbing secara berkelanjutan,” ujarnya.
Program Safari Dakwah Ramadhan menjadi bagian dari komitmen BMH Maluku Utara dalam membangun pembinaan Islam di wilayah terpencil. BMH tidak hanya mengirim dai dari luar daerah, tetapi juga menyiapkan generasi dari komunitas adat sendiri agar kelak menjadi penggerak dakwah di kampung halamannya.
Kehadiran Rahmat menegaskan satu pesan utama: investasi pendidikan dan pendampingan jangka panjang mampu melahirkan dai muda dari pedalaman yang siap memimpin perubahan. Ramadhan di rimba Halmahera bukan sekadar perjalanan menembus medan sulit, tetapi ikhtiar menghadirkan harapan dan keberlanjutan dakwah hingga ke akar komunitas.*/Herim









































































































































































































































