l-mostafa-meraji-tuhhco8fom-unsplash8e29b0340517137c021bfd69c43c28c820210816105408-bimacms

Ummu Hani, Wanita Penyayang

Baginda memuliakan Ummu Hani, menggambarkan keutamaan wanita Quraisy beriman yang sayang anak dan tidak mengabaikan hak suami

Oleh: Sarah Zakiyah

ولكني امرأة مُصبِيَة

Tetapi aku adalah perempuan yang memiliki banyak anak kecil.”

Lembaran hidup manusia dipenuhi berbagai warna dari perjalanan dan pengembaraan kehidupan dunia. Dan warna-warni perjalanan yang mendewasakan dan memberi pelajaran. 

Begitu pula Baginda Rasulullah Muhammad ﷺ. Sejak wafatnya Kakek Abdul Muthalib, Muhammad kecil diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. 

Muhammad tumbuh besar dalam asuhan pamannya, memenuhi sebagian lembaran hidupnya bersama putra-putri Abu Thalib. 

Kasih sayang dan pengorbanan yang dibangun di rumah tersebut menjadikan Muhammad tertarik pada sepupunya yang bernama Fakhitah. 

Beliau pun memberanikan diri melamar Fakhitah dari pamannya. Namun, lamaran keponakan mulia itu ditolak lantaran Fakhitah telah dijodohkan dengan laki-laki yang juga masih memiliki ikatan keluarga dengan ibunya. 

Fakhitah yang lebih dikenal dengan Ummu Hani, akhirnya menikah dengan Hubairah dan dikaruniai beberapa anak. Muhammad ﷺ pun mengarungi kehidupannya kelak bersama Khadijah ra dan ummahat mukminin lainnya, hingga cahaya Islam dilaluinya bersama mereka yang menopang dakwah dengan segala yang mereka miliki. 

Sementara Ummu Hani bersama Hubairah dalam keyakinan jahiliyah.

Waktu berlalu, cahaya Islam menerangi Makkah. Tibalah Fathu Makkah, penduduk Kota Makkah berbondong-bondong memeluk Islam. 

Ummu Hani, di usianya yang tidak muda lagi datang kepada Rasulullah ﷺ menyatakan keislamannya. Sementara Hubairah, suaminya keluar dari Makkah menghindari Islam. 

Sekali lagi Rasulullah ﷺ kembali melamar Fakhitah. Namun jawabannya sama seperti apa yang diucapkan oleh ayahnya belasan tahun lalu. 

“Demi Allah, engkau adalah orang yang aku cintai di masa jahiliyah, lebih-lebih lagi dalam Islam. Engkau lebih aku cintai daripada penglihatan dan pendengaranku, sedangkan aku adalah wanita yang memiliki anak-anak kecil. Hak suami sangatlah besar, jika aku penuhi hak tersebut, aku khawatir urusanku dan anak-anakku terabaikan, jika aku penuhi hak anak-anakku, hak suami terabaikan,” kata Fakhitah atau Ummu Hani. 

Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah ﷺ seketika bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang artinya:

“Sebaik-baik wanita yang mengendarai unta adalah wanita shalihah dari Quraisy; paling sayang pada anak di usia kecilnya dan paling menjaga suami pada apa yang dimilikinya. Kalaulah aku tahu bahwa Maryam bint Imran mengendarai unta, aku tidak akan melebihkannya dari wanita manapun.” 

Hadits yang secara khusus memuliakan Ummu Hani, dan secara umum menggambarkan keutamaan wanita Quraisy ini mengajarkan kepada para wanita dan Muslimah khususnya, untuk meniru wanita-wanita Quraisy yang beriman. 

Hal ini karena mereka sangat sayang kepada anak-anak kecil dan tidak mengabaikan hak-hak suaminya. 

Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “ahnaahu ala thifl” yaitu sayang kepada anak-anak, lembut, baik dalam mendidik mereka, memberikan hak-hak mereka kalau mereka yatim dan sebagainya. 

Sedangkan “ar’ahu ala zauj” bermakna memperhatikan suami, dan menjaga harta mereka. Apa yang mereka lakukan adalah gambaran dari sedikitnya kesalahan yang mereka lakukan pada suami mereka, sucinya mereka dari tipu daya kepada suami dan jarangnya mereka mendebat para suami. 

Semoga sifat Ummu Hani dapat menjadi teladan bagi para muslimah yang kelak menjadi istri dan juga ibu. Aamin.*

Berita Terkait

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Merupakan lembaga amil zakat yang bergerak dalam penghimpunan dana Zakat, infaq, sedekah, Wakaf dan Hibah berikut dana sosial kemanusiaan dan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, dan melakukan distribusi melalui program pendidikan, dakwah, sosial kemanusiaan dan ekonomi secara nasional.