img_614b217a34b2e7-52866094-29182026.webp

Muslimah, Ibu yang Militan

Al-Khansa adalah penyair masyhur di zamannya, bahkan dijuluki paling pandai bersyair dari bangsa jin dan manusia

Oleh: Sarah Zakiyah

Kata ‘militan’ saat ini terdengar menakutkan bagi sebagian orang. Apalagi disandingkan dengan kata yang berbau agama. 

Jika kita buka KBBI, militansi tidaklah memiliki makna sebagaimana gambaran di atas. Menurut KBBI, militansi bermakna ketangguhan dalam berjuang, menghadapi kesulitan, berperang. 

Sedangkan kata “militant” memiliki arti bersemangat tinggi; penuh gairah, berhaluan keras.

Setiap muslim/muslimah yang menyatakan bahwa Allah Swt sebagai Rabb dan Muhammad ﷺ sebagai utusan-Nya, haruslah memiliki militansi. Tanpa militansi, mustahil meninggikan kalimat Allah Swt di muka bumi terwujud. 

Generasi Militan

Sebaik-baik generasi manusia dari masa ke masa adalah generasi yang hidup bersama Rasulullah, Muhammad Saw. Maka, sosok Muslimah ideal yang dapat dijadikan panutan dalam rubrik Muslimah ini, selalu mengambil dari figur-figur Muslimah yang disebut sebagai shahabiyah. 

Adalah Tadhamur bint ‘Amr atau yang popular dengan sebutan Al-Khansa, Muslimah yang dikenal dengan kepiawaiannya dalam mengolah kata, alias penyair andal, mengalahkan para penyair di masanya. 

Saking baik dan indahnya syair yang ia gubah, Al-Khansa dikatakan sebagai orang yang paling pandai bersyair dari bangsa jin dan manusia. Perlu diketahui, syair adalah media utama penyebaran berita di zaman Rasulullah, Muhammad ﷺ. 

Maka penyair adalah ibarat buzzer atau pekerja media saat ini. Semakin piawai seseorang bersyair, makin tinggi bayarannya, karena kata-katanya dapat digunakan menaikkan rating seseorang dengan pujian ataupun menjatuhkan lawan. 

Di mana letak militansi Al-Khansa

Sejak ia memeluk Islam, ia menjadikan syair sebagai alat untuk membangkitkan semangat orang di sekelilingnya agar setia membela Islam dan selalu bertahan dalam jihad mempertahankan kemuliaan Islam. 

Semangat untuk membela agama Allah Swt ini ia tanamkan kepada anak-anaknya, yang seluruhnya laki-laki. Al-Khansa hadir dalam perang Qadisiyah, perang melawan pasukan Rustum Farrokhzad, kekaisaran Sasaniyah, Persia, bersama keempat putranya. 

Pesan yang penuh gelora menggambarkan militansi tinggi. Wanita mulia ini memberi pesan anaknya di malam sebelum perang dimulai. 

“Anak-anakku, kalian memeluk Islam dengan penuh ketaatan dan hijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang hak kecuali Dia, sungguh kalian terlahir dari ibu yang sama. Aku tidak pernah mengkhianati ayah kalian. Tak pernah mempermalukan paman kalian. Tak pernah mempermalukan nenek moyang kalian, dan tak pernah pula menyamarkan nasab kalian. 

………………..

Ketahuilah, negeri yang kekal itu lebih baik dari tempat yang fana ini….. 

Andaikata esok kalian masih diberi kesehatan oleh Allah, maka perangilah musuh kalian dengan gagah berani, mintalah kemenangan kepada Allah atas musuh-musuh-Nya.”

Inilah sosok teladan seorang Muslimah, ibu yang militan. Ia menjadi teladan dalam memegang teguh agamanya dan menanamkan kecintaan pada Allah, Rasul, dan jihad fi sabilillah kepada anak-anaknya. 

Ia telah mengasuh, mendidik anak-anaknya dengan kesetiaan pada suaminya, tanpa mengkhianatinya, menanamkan sifat berani dan mental pejuang yang siap berkorban, bahkan melatih mereka berkuda dan memanggul senjata. 

Semuanya ia peruntukkan untuk Islam, tiada lainnya. Radhiyallahu’anhaa wa arhdhahaa.

Berita Terkait

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Merupakan lembaga amil zakat yang bergerak dalam penghimpunan dana Zakat, infaq, sedekah, Wakaf dan Hibah berikut dana sosial kemanusiaan dan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, dan melakukan distribusi melalui program pendidikan, dakwah, sosial kemanusiaan dan ekonomi secara nasional.