1620893754.jpg

Langgengkan Relasi dengan Berbagi

Berbagi tak melulu berkaitan dengan materi. Bisa dengan sikap, sebab hal ini bisa lebih mempererat hubungan  

By: Khairul Hibri 

Saat pulang dari masjid, Rasulullah ﷺ merasa ada yang mengganjal.  Tidak seperti biasa, beliau kerap diganggu/diintimidasi dengan kekerasan fisik dan lemparan dengan kotoran hewan.

“Kemana sosok yang suka melemparkan kotoran kepada saya,” selidik beliau kepada seorang sahabat. 

Akhirnya disampaikanlah pada beliau bahwa pelaku tengah sakit beberapa hari belakangan.  Mendengar jawaban itu, beliau bergegas pergi ke rumah sosok yang kerap menyakiti beliau itu. 

Di sisi lain, yang dijenguk merasa kikuk dengan kunjungan Baginda Nabi ﷺ. Bersamaan dengan itu, ia merasa ikut kagum dengan akhlak yang ditunjukkan Nabi ﷺ. 

Atas kehendak Allah Swt, hidayah pun masuk hingga akhirnya laki-laki itu memilih Islam. 

Di kesempatan lain, selepas meninggalnya Nabi Muhammad ﷺ, Abu Bakar mencoba bertanya kepada istri Nabi ﷺ yang sekaligus putri beliau, Ibunda Aisyah, tentang amalan Nabi ﷺ yang belum ia kerjakan. 

Ibunda Aisyah mengatakan bahwa sang ayah (Abu Bakr), telah melakukan semua amalan yang telah dituntunkan Nabi ﷺ, kecuali satu amalan; memberi makan pengemis tua buta beragama Yahudi di tengah pasar. 

Abu Bakr pun terpanggil untuk mengamalkan perilaku Nabi ﷺ itu. Didatanginya Si Yahudi yang ternyata berkepribadian buruk. 

Sepanjang duduk di sisinya, Abu Bakar tidak melihat yang keluar dari lisannya, kecuali hinaan/cacian terhadap Baginda Nabi Muhammad ﷺ. 

Guna melanjutkan amalan Nabi, Abu Bakar menyuapi sang pengemis tua tersebut. Sayangnya, pengemis Yahudi ini langsung memuntahkan makanannya. Si Yahudi komplain, cara menyuapkan ke mulutnya bukanlah sosok orang yang biasanya, yang melakukan penuh dengan kelembutan. 

Mendengar penjelasan itu, menangislah Abu Bakar. Ia mengakui, bukanlah sosok yang biasa memberi makan pengemis tersebut. 

Abu Bakar menceritakan pada si pengemis, bahwa sosok yang ia sebut itu telah tiada. Dia yang dimaksud adalah Baginda Nabi Muhammad ﷺ, yang senantiasa dihina dan dinistakan. 

Kagetlah Pengemis Yahudi itu, hingga akhirnya ia memilih untuk memeluk Islam karena kagum dengan kepribadian Nabi. 

***

Kisah ini menjadi pelajaran berharga. Bahwa manusia sebagai makhluk sosial, tidak bisa berlepas diri dari keterlibatan orang lain. 

Itulah pentingnya membangun jaringan dan merawatnya. Sementara umumnya manusia, hanya piawai mencari, tapi tidak bisa merawat

Itu sama saja dengan petani hanya bisa menanam tanaman di sawah/kebun, tapi eggan merawat dari berbagai ancaman. Matilah tanaman.

Jaringan membuat kita memiliki banyak koneksi, sehingga lebih mudah dalam mengembangkan potensi yang ada. Adapun perawatan itu akan membangun trust alias kepercayaan yang pada akhirnya mampu melekatkan atau melangengkan hubungan. 

Salah satu cara menjaga itu semua, yaitu dengan memberi. Seperti sabda Nabi ﷺ. Bahwa dengan memberi (hadiah) itu bisa menumbuhkan rasa cinta, yang darinya membuat hidup seseorang berasa nyaman, damai dan tenang. 

Lihatlah teladan Nabi ﷺ di atas. Jangankan sekedar membangun relasi yang akan mendukung pengembangan potensi diri. 

Terhadap mereka yang mencela bahkan menistakan beliau pun, bisa luluh dengan prinsip ‘mau berbagi. ‘ 

Berbagi tak melulu berkaitan dengan materi/uang. Tapi juga bisa dengan sikap. Bahkan, hal ini bisa lebih meluluhkan dan mempererat hubungan satu sama lain. 

Laksana kata pepatah; “Hutang budi di bawa mati.” Jadi, perbaikilah hubungan dengan relasi. 

Jangan pelit untuk berbagi. Insya Allah, masa depan akan lebih cerah.

Berita Terkait

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Merupakan lembaga amil zakat yang bergerak dalam penghimpunan dana Zakat, infaq, sedekah, Wakaf dan Hibah berikut dana sosial kemanusiaan dan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, dan melakukan distribusi melalui program pendidikan, dakwah, sosial kemanusiaan dan ekonomi secara nasional.

Hari
Jam
Menit
Detik