Dunia-Islam-Kayiyeh.jpg

Kafiyeh, Kain yang Kini Ditakuti Dunia

Kekerasan terhadap Muslim meningkat tajam setelah agresi Israel ke Gaza yang menjadikan lebih 15.000 Muslim syahid

Hisham Awartani, Tahseen Ahmed dan Kinnan Abdalhamid tak mengira hari itu adalah malam terakhir mereka bersama. Ketiga pemuda keturunan Palestina yang berusia rata-rata 20 tahun ini berniat mengunjungi rumah salah satu kerabat mereka di dekat Universitas Vermont.

Saat ketiganya sedang sibuk ngobrol, tiba-tiba datang seorang pria berkulit putih menghadapkan mereka dengan senjata. Dor! Dor!

Dua orang dalam kondisi stabil dan satu lainnya menderita “luka yang jauh lebih serius” kata Kepala Polisi Burlington Jon Murad, dikutip TRT World, Senin (27/11/2023).

Murad mengatakan bahwa ketiga orang tersebut adalah keturunan Palestina. Dua di antaranya adalah warga negara Amerika Serikat dan satu orang lagi adalah penduduk resmi. Yang membuat polisi curiga, dua dari pria tersebut mengenakan syal kafiyeh khas orang Palestina berwarna hitam-putih dan bicara dalam bahasa Arab.

Agresi Israel

Penembakan terjadi  saat agresi militer penjajah Israel ke Gaza yang dimulai pada 7 Oktober 2023. Agresi kejam ini meledak menjadi unjuk rasa menuntut diakhirinya pengeboman  di Jalur Gaza di berbagai belahan dunia, diiringi maraknya penggunaan kafiyeh dan bendera Palestina.

Beberapa Negara –utamanya Negara pendukung Zionis– memberlakukan tindakan keras bahkan ditingkatkan kepada tuntutan hukum kepada pendemo yang membawa bendera Palestina atau kafiyeh.

Prancis, bahkan menjatuhkan denda pada orang-orang yang mengenakan kafiyeh. Di Berlin, Jerman, aparat melarang pemakaian jilbab, kafiyeh Palestina di sekolah-sekolah.

Meski Berlin merupakan rumah bagi sekitar 30.000 warga Palestina, pengguna kafiyeh atau mengibarkan bendera Palestina ditangkapi.

Hal yang sama terjadi di Amerika Serikat, di mana banyak warga Palestina mengatakan bahwa mereka menjadi sasaran fitnah dan pembungkaman, baik secara online maupun offline.

Pada tanggal 14 Oktober, seorang anak laki-laki Palestina-Amerika berusia 6 tahun bernama Wadea Al-Fayoume, ditikam hingga tewas dan ibunya terluka parah.Polisi mengaitkan aksi brutal ini  dengan agama Islam dan perang Gaza.

Kantor sheriff di Will County, Illinois, mengakui, “detektif dapat menentukan bahwa kedua korban dalam serangan brutal ini menjadi sasaran tersangka karena mereka beragama Islam dan konflik Timur Tengah”.  Merujuk agresi  Israel terhadap Gaza.

Nour Joudah, asisten profesor di departemen Studi Asia-Amerika di Universitas California, Los Angeles, mengatakan, “Hasutan pemerintah AS telah meluas dari tuduhan kosong atas kejahatan perang Israel hingga serangan terhadap warga Palestina dan Muslim,” ujarnya yang merasakan tidak adanya rasa aman bagi Muslim.

Anti-Islam Meningkat

Kejahatan kebencian telah meningkat secara dramatis di Eropa sejak serangan 7 Oktober yang menyebabkan lebih 15 ribu muslim Gaza syahid.  Data resmi menunjukkan peningkatan insiden anti-Muslim meningkat  di Inggris dan tidak merata di dua negara Eropa lainnya.

Percobaan pembakaran, pelecehan, vandalisme dan kepala babi di masjid termasuk di antara lebih dari 700 laporan insiden Islamofobia di Inggris sebulan setelah serangan Hamas, kata kelompok kampanye Tell Mama. Fenomena ini membenarkan kekhawatiran bahwa selama Muslim minoritas, dimanapun selalu tidak aman.*

Berita Terkait

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Merupakan lembaga amil zakat yang bergerak dalam penghimpunan dana Zakat, infaq, sedekah, Wakaf dan Hibah berikut dana sosial kemanusiaan dan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, dan melakukan distribusi melalui program pendidikan, dakwah, sosial kemanusiaan dan ekonomi secara nasional.