hikmahidulfitri-memaafkan-e1456820290510.webp

Energi Maaf-Memaafkan

Banyak hubungan berakhir perpisahan hanya karena mengedepankan ego

Setiap perayaan Idul Fitri  selalu ada pemandangan menyejukkan di negeri ini, yang tidak dimiliki banyak negeri lain. Hari itu banyak anggota keluarga saling berkunjung, meminta maaf, bahkan tak jarang diiringi deraian air mata. 

Kerukunan dan keakraban nampak jelas selepas itu. Sambil sajian, mengobrol dengan hangat,  disertai senyum manis dan gelak tawa penyedap suasana. 

Jika, keadaan semacam ini  terus berlanjut pada sebelas bulan selanjutnya, sudah pasti kedamaian hidup dan produktivitas akan semakin baik. 

Bagaimana tidak terbangun kedamaian, sedang satu sama lain tak ada yang saling menyakiti. Laksana lebah, meski mereka masing-masing memiliki alat penyengat, tak pernah digunakan untuk menyengat kawan. 

Selanjutnya, produktivitas akan meningkat karena ada keterikatan satu sama lain. Maksudnya, hati yang telah terhubung tali persaudaraan, sudah pastilah akan mendukung satu sama lain. 

Laksana ilustrasi Rasulullah ﷺ bahwa seorang mukmin dengan mukmin yang lain laksana satu tubuh. Ketika ada satu bagian yang merasa sakit, maka sekujur tubuh akan merasakannya pula. 

Bukankah hanya tubuh yang sehat lagi bugar yang bisa bekerja dengan baik?

Lepaskan Ego 

Pertanyaannya, bagaimana kita menjadi pribadi pemaaf? Caranya, lepaskan ego. 

Bila hal ini tidak dilakukan, maka, sudah pasti kebekuan hubungan akan terus berlanjut. Sebab, keduanya saling membelakangi dan tidak ada yang mau mengalah. 

Ada sebuah dongeng tentang dua domba yang bersua di atas jembatan kecil, di bawahnya ada sungai. Keduanya tak ada yang mau mengalah. 

Malah kekeh mendahulukan ego masing-masing. Akhirnya, kedua-duanya jatuh ke sungai. 

Banyak hubungan yang awalnya bersatu kemudian berakhir perpisahan hanya karena mengedepankan ego. 

Padahal, jika setiap orang mampu meredam ego, kemudian membuka diri untuk meminta maaf atau memaafkan, maka selesailah urusan. 

Buka lembaran baru, buka cerita baru dan bukan mustahil, persoalan yang terjadi, justru menjadi penyegar semangat dan pikiran untuk lebih baik kedepan. 

Bukankah kapal bergerak karena dihempas gelombang dan angin? 

Perseteruan 

Adalah Bilal bin Rabah pernah tersinggung berat dengan kata-kata Abu Dzar yang menyebutnya ‘anak hitam.’  

Tak terima dengan perilaku itu, Bilal mengadukan Abu Dzar kepada Rasulullah ﷺ. Sang Nabi menegur keras sahabat mulia itu, bahkan menyebutkan dalam dirinya masih ada sisa-sisa kejahiliahan. 

Marahkah Abu Dzar dengan aduan ini? Yang ada, beliau malah mencari Bilal untuk meminta maaf. Beliau menyadari betul kekeliruan yang diperbuatnya. 

Bahkan, ia letakkan kepalanya di tanah agar diinjak Bilal. Tapi Bilal enggan melakukan. Dirangkulnya Abu Dzar dan keduanya akhirnya saling berpelukan dan saling memaafkan. Sungguh indah, bukan?

Berita Terkait

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Merupakan lembaga amil zakat yang bergerak dalam penghimpunan dana Zakat, infaq, sedekah, Wakaf dan Hibah berikut dana sosial kemanusiaan dan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, dan melakukan distribusi melalui program pendidikan, dakwah, sosial kemanusiaan dan ekonomi secara nasional.