Des_MULIA_CERMIN_2-1.jpg

Allah Menjewer Karena Kesombonganku

Aku terlilit hutang. Bahkan, karena tak mampu membayar kontrakan rumah, aku dan keluarga menumpang di rumah mertua

Pada tahun 1998, aku memberanikan diri untuk terjun di dunia entrepreneurship (kewirausahaan). Bisnis yang sedang aku incar adalah jual-beli beras dari desa ke kota. 

Pada saat itu, pasar Surabaya sedang membutuhkan asupan beras yang tinggi. Peluang inilah yang aku baca. 

Rezeki tak lari dikejar, hanya dalam waktu satu tahun, aku meraih keuntungan yang cukup besar. Omzet saat itu, mampu mencapai 25 ton, tiap bulannya. 

Dengan penghasilan demikian, aku sekeluarga  mengontrak rumah yang lumayan megah. Aku beli mobil tiga sekaligus. 

Bisnis ini terus berjalan dengan lancar, hingga memasuki tahun 2001. Karena begitu mudahnya rizki hinggap ke pangkuan, maka sempat timbul sifat arogansi (sombong) dalam diri. 

Pernah pada suatu saat, aku hampir ‘ketiban durian jatuh’. Uang sebesar Rp 2,2 Miliar hampir aku dapat namun akhirnya lenyap. Padahal, bisa dikatakan uang tersebut tinggal sejengkal saja menjadi hak milik saya.

Usut punya usut, mungkin, penyebabnya karena kesombonganku. Ceritanya, ketika mengetahui akan mendapat rezeki nomplok, aku berkata kepada istriku, “Bu, lihatlah, siapa di antara teman-temanku yang mampu mendapatkan uang Rp. 2,2 Milyar dalam umur semuda aku?” 

Kala itu, umurku masih 34 tahun. Tak disangka, kekotoran hati seperti itulah, rupanya, yang kemudian menjadi biang kehancuran bisnisku.

Roda Berbalik

Ujian bisnis masih terus berlanjut. Puncaknya terjadi pada tahun 2002, saat aku ditawari untuk bekerja sama oleh sebuah perusahaan dengan cara menanam saham. 

Setelah dijelaskan bagaimana sistem kerjanya, aku pun tertarik. Uang sebesar Rp 50 juta, aku serahkan langsung tanpa curiga dan ternyata itu modus penipuan.  

Bisnisku mulai macet dan utang mulai menumpuk.  Aku mulai menjual mobil dan berganti pinjam sana, pinjam sini. 

Aku benar-benar menjadi orang yang terlilit hutang. Bahkan, karena tidak mampu lagi membayar kontrakan rumah, aku dan keluarga harus menumpang di rumah mertua.

Di tengah kekalutan itu, rumah yang kami tempati dijual mertua. Ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga.

Singkat cerita, rumah mertua akhirnya terjual seharga Rp. 130 Juta. Dari hasil penjualan, bapak (mertua) memberi kami Rp. 20 juta. 

Belum genap berumur satu minggu, uang itu sudah ludes untuk mencicil hutang-hutangku yang menumpuk. Istriku menangis, sebab, sedianya uang itu akan aku gunakan untuk mengontrak rumah.  

Suatu saat datang temanku. Aku dipertemukan dengan seorang pemilik rumah yang mau mengontrakkan rumahnya senilai Rp 16 juta. 

Karena kelembutan hatinya, kami dipersilahkan menempati rumah tersebut dengan harga murah dan sebagai ganti, aku diminta untuk bekerja dengannya. 

Bangkit

Setelah mendapat tempat tinggal yang pasti, saya mencoba menata ulang kehidupan. Aku melamar untuk menjadi agen sebuah majalah Islam dan alhamdulillah diterima. 

Pelangganku juga lumayan banyak. Untuk majalah, berkisar 30 orang, buletin 50. Selain itu, aku juga berjualan kecil-kecilan. 

Karena pernah aktif di sebuah lembaga zakat, akupun ditawari untuk menjadi konsultan sebuah lembaga zakat.

Melalui aktivitas-aktivitas inilah, aku bisa kembali bangkit dari sebelumnya. Bahkan di kemudian hari, rumah yang kami tempati itu, telah menjadi hak milik, karena telah aku beli. 

Inilah perjalanan hidup yang pernah aku lewati. Semoga bisa diambil hikmahnya. Kepada Allah aku meminta ampun.*/Diceritakan Abdullah, asal Surabaya pada Mulia 

Berita Terkait

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Merupakan lembaga amil zakat yang bergerak dalam penghimpunan dana Zakat, infaq, sedekah, Wakaf dan Hibah berikut dana sosial kemanusiaan dan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, dan melakukan distribusi melalui program pendidikan, dakwah, sosial kemanusiaan dan ekonomi secara nasional.