Yang Girang dan Meriang Piala Dunia Arab Saudi  

Keputusan FIFA menjadikan Arab Saudi lokasi penyelenggaraan Piala Dunia membuat banyak LSM meradang, tapi umumnya umat Islam girang

Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) akhirnya menunjuk Arab Saudi sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034. Keputusan itu dibuat menyusul kongres luar biasa hari Rabu,  (11/12/2024).

“Kami ingin membawa sepakbola ke banyak negara dan kualitas turnamen tidak akan menurun karena bertambahnya jumlah tim” ujar Presiden FIFA Gianni Infantino dikutip ESPN.

Tentu tidak semua senang. Keputusan ini bahkan membuat organisasi HAM, terutama pembela LGBTQI+ meradang dan meriang.  

 “Dengan menjalankan keputusan hari ini terlepas dari risiko yang diketahui, FIFA akan memikul tanggung jawab yang berat atas banyak hal yang terjadi selanjutnya,” demikian pernyataan bersama 21 organisasi HAM yang didukung Amnesty International dalam sebuah pernyataan.

Perlu diketahui, Arab Saudi, adalah salah satu negara yang memiliki perangkat hukum tegas melawan kelainan seksual seperti LGBT. Sebagaimana biasanya, para pembela LGBT dan negara Barat memasukkan Saudi memiliki “catatan HAM buruk”.

Saudi diperkirakan bakal tegas menolak minuman alkohol seperti bir di stadion. Hal ini berdampak banyak perusahan Miras tidak akan menjadi sponsor. 

Sementara Ketua Unit Penawaran Piala Dunia 2034 Arab Saudi, Hammad Al Balawi mengaku tidak risau dengan penolakan banyak pihak. 

“Anda akan dihormati. Anda akan disambut di Arab Saudi karena rasa hormat dan sambutan ditujukan kepada semua orang dari seluruh dunia. Kami menghormati privasi semua tamu kami,” kata Hammad dikutip Sky Sport.

Hammad Al Balawi juga mengatakan, sebagai tuan rumah yang baik, pihaknya akan tetap menyambut tamu dengan baik.

“Masyarakat perlu mendidik diri mereka sendiri tentang Arab Saudi dan cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan mengunjungi (Arab Saudi). Mereka akan menemukan orang-orang Saudi yang ramah. Kami ingin menyambut tamu kami.”

Sementara situs pariwisata Arab Saudi dalam pesannya menyampaikan kepada para pengunjung LGBTQ yang akan datang  “untuk menghormati budaya dan tradisi dan mematuhi hukum Saudi seperti yang mereka lakukan ketika mengunjungi negara lain di dunia”.

“Seperti pemerintah lain di seluruh dunia, kami tidak mewajibkan pengunjung untuk mengungkapkan informasi pribadi mereka dan kami akan menghormati hak privasi pengunjung,” tambahnya.

Promosi budaya Islam

Ancaman dan penolakan seperti ini bukanlah hal baru. Sebelumnya, saat Piala Dunia 2022 di Qatar, hal serupa juga terjadi. 

Meski demikian, dengan segala cara,  Qatar mempersiapkan gelaran empat tahunan ini dengan kampanye nilai-nilai Islam. Mulai dari upacara pembukaan yang melibatkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an hingga memperdengarkan kumandang adzan di stadion.

Qatar menyuguhkan mural-mural hadits di sejumlah titik strategis, mempromosikan Islam lewat hadits-hadits Rasulullah berisikan pengingat amal kebaikan, kutip Doha News.

Termasuk membatasi minuman beralkohol di fan zone di sekitar stadion, melarang simbol LGBTQ+. Kabar girangnya, ribuan fans sepakbola dikabarkan memeluk Islam selama berlangsungnya Piala Dunia.

Dengan Visi 2030, diluncurkan pada tahun 2016 dan dipimpin oleh Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, ingin mendiversifikasi perekonomian yang bergantung pada minyak dengan meningkatkan pariwisata, acara budaya dan olahraga. 

Pelaksanaan Piala Dunia Dunia 2034 diharapkan menjadi kampanye menguntungkan nilai-nilai dan peradaban Islam kepada dunia.*