Ustadz Ali Imran:  Bergerak di Perkampungan Suku Dayak

Banyak mualaf lupa mengucapkan syahadat, membuat ia berinisiatif berdakwah door to door ke rumah mengajarkan ngaji

Belantara hutan Kalimantan Barat dan aliran deras sungai Kapuas menjadi saksi perjalanan dakwah Ustadz Ali Imran. Membutuhkan waktu sekitar 22 jam perjalanan darat dan menyeberangi sungai dari Kabupaten Ketapang menuju Kabupaten Bengkayang.

Safar itu menjadi episode baru kehidupannya sebagai seorang da’i usai mendapat amanah dari DPW Hidayatullah Kalimantan Barat merintis dakwah di Bengkayang, kawasan yang dihuni Suku Dayak dan warga Muslimnya minoritas.

“Dalam sebulan atau dua bulan, saya pulang menjenguk keluarga di Ketapang,” ungkapnya.

Mujahadahnya dalam dakwah menggerakkan seseorang mewakafkan tanah di daerah pedalaman Bengkayang. Namun takdir Allah, kesepakatan wakaf tak terealisasi.

Qadarallah, di saat ia sedang sakit akibat berikhtiar, datang seorang warga ingin mewakafkan tanah. Alhamdulillah, tak dapat di pedalaman, eh, malah dapat dekat kota.

“Di situlah saya rasakan betapa Maha Besarnya Allah,” terang pria kelahiran Demak, 22 Oktober 1980 tersebut.

Dicurigai

Imran segera merancang program dakwah di tanah wakaf. Karena lokasinya di tengah warga Suku Dayak yang non-Muslim, penyerahan tanah wakaf itu disertai syarat tidak boleh dibangun pondok pesantren.

Seorang tokoh menyarankan agar dibuat Yayasan Yatim dan Dhuafa, mengingat pesantren masih hal sensitif di daerah mayoritas non-Muslim itu.

Imran mengikuti saran tersebut, guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Akhirnya, panti asuhan menjadi jalan tengah untuk memulai gerakan dakwah.

Imran tahu betul karakter orang Dayak sangat toleran. “Asalkan kita baik, mereka akan baik pula,” ujar pria jebolan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Syarif Abdurrahman Pontianak ini.

Atas izin Allah, hingga kini tak pernah ada konflik dengan kegiatan dakwahnya. Bahkan tokoh adat Dayak se-Kabupaten Bengkayang ikut mendukung dan siap pasang badan melancarkan dakwahnya.

Sambil menunggu proses pembangunan panti asuhan, Imran tinggal di kontrakan dan mengajar mengaji anak-anak sekitar.

Namun baru saja ia mengajarkan buku Iqro’, sudah didatangi seseorang mirip intel. Sebelum aparat resmi mendatangi, ia langsung menuju Polres, menjelaskan program dan kegiatannya.

“Subhanallah, meski Kapolresnya non-Muslim, tapi ia malah menjadi pendukung utama dakwah, termasuk meresmikan berdirinya panti asuhan,” jelas suami dari Nany Najmatullail ini.

Kecurigaan akhirnya menjadi berkah. Imran kemudian berpacu dalam dakwah, menyantuni anak yatim, anak mualaf, fakir-miskin, anak terlantar, hingga putus sekolah.

“Apa yang diperlukan ustadz kami siap support,” ujar Imran menirukan Kapolresnya, disusul bantuan kasur, bantal, peralatan dapur, dan beberapa perlengkapan lainnya.

Menurut Imran, strategi dakwah untuk menjaga keharmonisan interaksi masyarakat sangat diperlukan. Tak masalah namanya panti asuhan, asal kegiatan berasa pesantren.

Di saat yang sama, ia gencar bersilaturahmi ke tokoh masyarakat. Itulah sebabnya, banyak warga yang senantiasa menanti kedatangannya.

Mendidik Mualaf

Alam di pedalaman Bengkayang menjadi tantangan tersendiri. Jalan tanah licin dan berlubang, suasananya sepi di tengah hutan, adalah rutinitas sehari-hari.

Dalam medan seperti itu, ia biasanya berdakwah menggunakan sepeda motor. Karena medannya yang berat, insiden ban pecah, mesin rusak adalah pemandangan biasa.

Ia bahkan pernah mendorong sepeda motor sejauh sekitar 10 kilometer di tengah hutan, sendirian di malam hari.

Ia bersyukur ketika mendapat bantuan sepeda motor dari YBM BRIliaN yang cocok untuk medan dakwahnya. Ditambah lagi ada kafalah dan operasional dakwah.

“Bantuan ini membuka peluang dakwah kami lebih luas,” ucapnya penuh syukur.

Saat ini Imran banyak membina mualaf orang-orang asli Suku Dayak yang memilih Islam melalui pintu perkawinan.

Yang menyedihkan, banyak di antara mualaf itu enggan mengaji dan belum memahami Islam secara baik. Bahkan sekadar mengucap syahadat yang pernah diucapkan sebelum menikah mereka sudah lupa.

“Setelah saya telusuri, banyak orang tua mereka dulu mualaf, tetapi untuk kebutuhan menikah saja. Setelah menikah, mereka jarang datang mengikuti pembinaan,” paparnya.

Imran kemudian berinisiatif memulai dakwah door to door ke rumah-rumah para mualaf. Alhamdulillah, juga mendapat amanah sebagai penyuluh agama Kantor Urusan Agama (KUA).

Imran juga mengajar mengaji di rumah para mualaf, termasuk untuk anak-anaknya, rutin tiga kali seminggu. Baginya, tidak ada kata lelah berdakwah di jalan Allah.

“Prinsip saya, selagi kita masih hidup, pasti Allah kasih rezeki. Yang penting kita usaha, mendidik lingkungan agar lebih baik,” terang ayah dari 5 anak ini dengan semangat.*/Siraj el-Manadhy