Para perempuan Kota Lima, Peru, telah menggunakan pakaian “cadar” sebagai sarana mencapai kebebasan dan melindungi diri
Media asing selama ini menggambarkan burqa atau burka, pakaian khas perempuan Afghanistan selama masa pemerintahan Taliban sebelum “dijajah” negara-negara Barat, sebagai simbol pengekangan.
Mungkin agak mengejutkan, bahwa telah ratusan tahun wanita Peru telah lema menggunakan tapada limeña (yang berarti yang tertutup dari Lima atau “perempuan bercadar dari Lima”), merupakan jubah perlawanan kaum perempuan terhadap otoritas yang digunakan kaum perempuan Kota Lima selama lebih dari tiga ratus tahun.
Tapada limeña populer antara abad ke-16 dan ke-19 di Kota Lima, ibu kota Raja Muda Peru dan pusat pemerintahan kolonial Spanyol. Kala itu, para wanita akan mengenakan kemeja, rok yang menutupi kaki, jubah, dan manto (selendang) untuk menutupi seluruh tubuh mereka, kecuali satu mata yang tetap terbuka.
Pakaian itu mungkin tampak represif bagi kepekaan zaman modern saat ini. Tetapi pada kenyataannya, pakaian itu memberi mereka lebih banyak kebebasan daripada yang biasa terjadi pada saat itu.
“Tapadas Limeña tidak ada hubungannya dengan puritanisme,” kutip La Vanguardia. “Dengan gaun berikat pinggang mereka tampil provokatif dan sensual, dengan cara yang menantang gagasan tradisional tentang ketundukan perempuan.”
Dengan berpakaian tapada limeña, para wanita untuk mengirim pesan selama perjuangan kemerdekaan Peru.
Hal ini dapat menjelaskan mengapa praktik mengenakan pakaian ini tidak populer di gereja Katolik dan dilarang—namun tidak berhasil—pada lebih dari satu kesempatan.
Bahkan Uskup Agung Spanyol Toribio de Mogrovejo pernah menganggapnya sebagai tantangan terhadap nilai-nilai Kristen. Sementara pada tahun 1624 Raja Muda Diego Fernandez de Crdoba berupaya melarang tapada limeña dengan hukuman yang bervariasi menurut status sosial: wanita bangsawan menghadapi hukuman sepuluh hari penjara, sementara kelas bawah menanggung hukuman satu bulan.
Wanita yang mengenakannya bahkan dicap sebagai “ular berbisa yang kurang ajar” oleh seorang penyair. Sementara mereka bahkan disalahkan atas gempa bumi tahun 1746 yang menghancurkan Kota Lima.
“Tuhan telah menghukum ibu kota karena keberanian beberapa wanita yang oleh semua orang, penduduk asli dan asing, dianggap sebagai simbol erotis,” klaim La Vanguardia.
Tapi pada tahun 1833, feminis Flora Tristán menulis bahwa wanita Lima adalah yang “paling bebas di dunia” karena pakaian mereka memungkinkan mereka menghindari pengawasan pria.
Meskipun selama bertahun-tahun dianggap tapada limeña hanya dimiliki oleh daerah Kota Lima, ternyata tradisi ini juga dimiliki oleh wanita di Vejer de la Frontera, Spanyol, di mana mereka disebut cobijadas dan telah diadopsi sebagai pakaian tradisional kota tersebut.
Jejak Islam
Darimana asal usul tapada limeña atau cobijadas? Rupanya para ahli mengaitkan ini dengan pengaruh Bangsa Moor (sebutan orang Eropa untuk kaum Muslim, mengambil kata Maroko, red) di masa lalu.
Tradisi ini mungkin dibawa kaum imigran Muslim yang dating ke Amerika Selatan. Karenanya, ada istilah, bagi orang Islam yang murtad ke Kristen di Spanyol disebutnya moriscos.
Rupanya, kedatangan Bangsa Moor Muslim yang telah menaklukkan sebagian besar wilayah Spanyol telah meninggalkan jejak budaya di sana. Banyak tradisi Islam terus diikuti.
Pengaruh bangsa Moor pada budaya Spanyol terlihat dalam bahasa, arsitektur, termasuk pakaian khas. Meskipun para wakil kerajaan berusaha mencegah penggunaan pakaian tersebut, budaya yang dibawa Muslim ini sulit dihilangkan.
Di Lima, selama Kerajaan Peru, menghadapi masa kemakmuran luar biasa. Lima, yang pada saat itu dikenal sebagai Kota Para Raja, memiliki bangunan paling indah dan elok.
Setiap bangunan didominasi oleh balkon kayu megahnya, yang diukir dengan sempurna, beberapa bagian bahkan dikirim dari Spanyol. Gaya Moor pada pola-pola di beberapa bangunan sangat terlihat akibat pengaruh Islam.
Pada saat itu, tidak dianggap pantas bagi wanita untuk keluar ke jalan. Karenanya, bangunan kala itu dibuat untuk melindungi dan memuliakan kaum wanita.
Bangunan-bangunan dibangun dengan balkon besar agar para wanita bisa melihat ke bawah, tanpa harus ke jalan. Namanya Balcones Limeños, balkon yang dibuat dengan gaya “Arabescos”.
Berjalan melalui jalan-jalan di Lima, seseorang hampir dapat membayangkan bahwa ia sedang berjalan melalui jalan-jalan di Al-Andalus dengan arsitektur Islam tersebar di seluruh kota.*