Suami Abai Tanggung Jawab

Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh. Saya Adiba (32 tahun), suami usia 34 tahun. Kami menikah 1,5 tahun yang lalu dan belum punya momongan. Suami saya sering mengabaikan kewajibannya sebagai kepala keluarga. Suami sering tidak memberikan nafkah yang cukup, baik lahir dan batin. Sudah setahun menikah hingga sekarang, saya sangat terbebani situasi ini. Dia juga jarang membantu urusan rumah tangga, sering pulang larut malam tanpa alasan yang jelas. Bagaimana cara saya harus bersikap menjalani situasi ini tanpa menimbulkan konflik? jazaakumullahu khairan katsiran.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

Adiba | Bengkulu

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi wabarakatuh

Ibu Adiba yang dirahmati Allah, semoga senantiasa dalam lindungan Allah SWT, sehat, kuat, sabar dan tangguh. Terima kasih jazaakillahu khair sudah mau berbagi cerita disini, dengan keluarga besar Mulia. Semoga jawaban yang didapat, akan menjadi ilmu dan hikmah bagi kita semua. Aamiin. 

Ibu, situasi yang sedang Anda jalani ini tentu sangat berat bagi Anda. Dalam Islam, suami memiliki kewajiban menjadi imam, dan pengayom. Memberikan nafkah lahiriyah dan nafkah bathiniyah dll. 

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”(QS. An-Nisa’:34)

Saran kami menghadapi situasi seperti ini; pertama, bersikaplah tenang, damai dan tidak panik, serta lakukan komunikasi yang baik sebagai kuncinya. 

Cobalah untuk berbicara dari hati ke hati dengan suami. Pilihlah waktu yang tepat, suasana hati sedang baik, dengan lembut dan jelas, tanpa menyalahkan. Misalnya, mengatakan; “Saya merasa sangat terbebani dengan situasi ini dan berharap kita bisa bekerja sama untuk memperbaikinya.”

Kedua, selain komunikasi, penting berdoa memohon petunjuk Allah SWT. 

Ingat, doa adalah senjata yang kuat bagi seorang muslim. Selain itu, jika memungkinkan, carilah informasi dan ajak suami untuk mengikuti Kajian Parenting atau konseling pernikahan bersama, agar membantu memperkuat ikatan bersama tentang peran dan tanggung jawab rumah tangga.

Ketiga, kuatkan sikap sabar dan tawakal. Kita semua tahu, bahwa menjalani kehidupan rumah tangga tidak selalu mudah. Maka, bersabar dan bertawakallah kepada Allah saat menghadapi ujian dan cobaan. 

Nah Ibu Adiba, secara khusus  kami titip pesan untuk suami. Pesannya adalah sebagai berikut : Pertama, ingatlah pada “Janji Pernikahan” untuk saling mencintai,  menjaga satu sama lain. Ingat pula pernikahan adalah amanah dari Allah yang harus dijaga. 

Kedua, berbuat baiklah kepada Istri. Rasulullah ﷺ bersabda, “Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik kepada istrinya, dan aku adalah yang terbaik di antara kalian kepada istriku.” (HR. Tirmidzi). 

Berbuat baik kepada istri bukan hanya kewajiban, tetapi juga menunjukkan akhlak yang mulia. 

Ketiga, berikan nafkah istri dan keluarga. Allah SWT berfirman:“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah:233). 

Keempat, hormati dan sayangi istri, ringankan bebannya dan bangun komunikasi yang baik. “Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nisa:19). 

Terakhir, jadilah pasangan suami istri yang saling mengajak kepada Kebaikan. “Seorang laki-laki adalah pemimpin di dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan keberkahan dalam rumah tangga Anda berdua. Amin.*