Seni Khat, Warisan Peradaban Islam yang Langka 

Seni Khat ini adalah khazanah tertua di dunia yang dimiliki orang Islam, melambangkan identitas Islam  

Sebagian orang pernah mendengar istilah kaligrafi, merujuk seni menulis indah. ‘Kaligrafi’ merupakan istilah dari bahasa Latin yaitu ‘kallos’ artinya indah dan ‘graph’ artinya tulisan atau aksara.

Dalam khasanah, kita mengenal Seni Khat. Khat, bermakna garis atau tulisan indah. Berbeda dengan kaligrafi, umumnya Seni Khat merupakan petikan ayat-ayat suci Al-Quran.  

Salah satu era keemasan Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) adalah berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama cabang seni khat Arab, terutama penulisan khat Al-Quran. 

Sejarah mencatat, di masa Kesultanan Turki Utsmani, Seni Khat mendapat tempat terhormat.  Tak hanya para seniman dan pelajar menggeluti Seni Khat,  beberapa sultan pun dikenal sebagai khattath (sebutan seniman Khat) andal.

Saat itu, Seni Khat ditulis pada permukaan batu, marmer, kaca, tambang, atau kayu dengan teknik khusus.

Seni Khat ini juga banyak digunakan untuk panel dekoratif prasasti pada bangunan keagamaan, serta arsitektur bangunan-bangunan publik. Khat juga diterapkan pada buku-buku, terutama dalam penulisan Mushaf Al-Quran.

Biasanya, para pakar khat menuliskan ayat-ayat Al-Quran sebagai hiasan sekaligus simbol keagamaan di masjid-masjid. Tujuannya dari penulisan ini sendiri bukan hanya sekadar untuk menciptakan dekorasi yang indah.

Dilansir Daily Sabah, para ahli khat dari Khilafah Utsmaniyah telah membawa Seni Khat ke tingkat tertinggi, menjadikan Kota Istanbul menjadi pusatnya. Sejak itu seni ini diterima di seluruh dunia Islam. 

Semua orang bergegas ke Istanbul untuk belajar seni kaligrafi. Karya kaligrafi terbesar yang dihasilkan dapat dilihat di Museum Istana Topkapi dan Museum Seni Turki dan Islam.

Hingga muncul pepatah umum kala itu; “Al-Quran diturunkan di Hijaz, dibacakan di Mesir dan ditulis di Istanbul.” 

Dalam khasanah ilmu khat dikenal beberapa gaya penulisan. Ada Khat Naskhi, Khat Thulust, Khat Diwani, Khat Ruq’ah,Khat Kufi, Khat Riq’ah, Khat Farisi,  Khat Maghribi, Khat Nasakh, Khat Ta’liq, yang telah berkembang selama berabad-abad.

Para Khattat memiliki peran khusus dalam pewarisan unsur tersebut. Mereka mewariskan pengetahuan, keterampilan, dan etika mereka tentang unsur tersebut melalui hubungan guru-murid kepada generasi berikutnya. 

“Kami menjabarkan, Seni Khat atau Husn-i Hat sebagai seni yang diciptakan dengan huruf Arab Islami yang memperoleh keindahan dan estetika dari waktu ke waktu,” kata Ugur Derman, seorang Seniman Buku Klasik asal Turki.

UNESCO pada tahun 2021 memasukkan Seni Khat, dalam Daftar Warisan Dunia.  

“Seni Khat” adalah praktik penulisan huruf Arab secara terukur dan proporsional dengan tetap mempertimbangkan estetika tertentu. Kaligrafi tradisional dapat ditulis di atas kertas atau kulit, atau juga dapat diterapkan pada batu, marmer, kaca dan kayu, di antara bahan lainnya, “ demikian menurut UNESCO.

Bagaimanapun, Seni Khat ini adalah khazanah tertua di dunia yang dimiliki orang Islam. Seni Khat juga melambangkan identitas Islam dengan ciri-ciri khasnya.  

Menjaga khazanah yang mahal ini berarti ikut menjaga warisan peradaban Islam.*