Dalam hitungan jam, Ramadan akan meninggalkan kita. Tak bisa kita menahannya. Tapi esensi keimanan harus tetap menyala dalam dada. Ramadan memang istimewa, tapi tak mungkin selamanya menemani kita. Meski dalam Ramadan kita mudah sekali menjalankan ketaatan dan kebaikan-kebaikan.
Meski demikian kebaikan harus tetap ada, menyala dan menebarkan cahaya. Kita menjadi Muslim bukan karena Ramadan. Tetapi karena tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Ramadan ibarat fasilitas fast charging untuk menjadikan “batera” keimanan yang lemah menguat kembali.
Tugas kita sekarang adalah memelihara semangat ibadah selama Ramadan. Menjaga semangat berbagi dan peduli kepada sesama seperti kala Ramadan.
Gambarannya seperti yang Rasulullah SAW teladankan kepada kita.
Sayyidah ‘Aisyah radliyallahu ‘anha menceritakan perihal yang dilakukan Rasulullah SAW jika telah memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan.
“Adalah Rasulullah apabila sepuluh malam terakhir Ramadhan telah tiba, beliau menghidupkan malam dengan shalat dan berbagai ibadah, membangunkan keluarganya untuk shalat malam dan ibadah-ibadah yang lain, bersungguh-sungguh dalam beribadah melebihi apa yang biasanya dilakukan dan tidak menggauli istri-istrinya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Pertanyaanya mengapa Nabi SAW melakukan itu?
Tidak lain karena iman harus kembali pada “pertarungan” antara iman dan hawa nafsu. Oleh karena itu beliau tidak mau berpisah dengan Ramadan sedangkan kesungguhan ibadah kepada Allah tidak maksimal.
Ibadah yang full power pada akhir Ramadan adalah gambaran bahwa kita harus pasang kuda-kuda pasca Ramadan. Pasang tekad untuk tetap menjadi penebar kebaikan. Mendirikan shalat, menunaikan zakat, berinfak, sedekah dan berbuat baik kepada sesama.
Terakhir, Allah memerintahkan kita berpuasa agar menjadi insan bertakwa. Dan, satu dari ciri orang bertakwa itu adalah gemar bersedekah, berbagi, dan memberi. Selagi masih ada sisa waktu, beberapa jam kedepan. Segera niatkan diri bersedekah. Sungguh kebaikan terakhir Ramadan harus kita wujudkan dengna kemampuan terbaik yang kita miliki.*