Apa yang kita cari di media sosial, itulah yang akan kita temui—baik atau buruknya tergantung niat kita
Oleh: Khairul Hibri
Di era media sosial seperti sekarang, dunia seakan berada dalam genggaman tangan. Batas-batas geografis nyaris lenyap. Seseorang dapat berinteraksi langsung dengan orang lain, meski tinggal di negara, bahkan benua yang berbeda.
Naluri manusia untuk bersosialisasi semakin mudah terwujud. Perbedaan suku, bangsa, ras, bahkan agama tak lagi menjadi penghalang untuk saling terhubung.
Tinggal klik, langsung terjalin komunikasi. Dari situ, banyak hal bisa dibagi—mulai dari budaya, peluang bisnis, hingga persahabatan lintas dunia.
Tak ada gading yang tak retak,” kata pepatah. Meski media sosial ada segudang manfaat, tersembunyi pula ancaman nyata.
Beberapa waktu lalu, publik dihebohkan dengan munculnya grup tertutup di Facebook bernama Fantasi Sedarah, yang memuat konten inses. Grup ini sempat diikuti lebih dari 30 ribu akun sebelum akhirnya diblokir pemerintah dan diusut oleh kepolisian.
Dan itu baru satu contoh. Masih banyak grup nyeleneh lainnya—berisi konten perjudian, prostitusi, penipuan, hingga ajakan yang merusak moral.
Terutama perempuan, tak sedikit yang menjadi korban, bahkan kehilangan kehormatan, karena lengah memilih teman dunia maya.
Petuah Buya Hamka
Dalam hal ini, kita perlu menyimak petuah Buya Hamka. Islam adalah agama yang moderat, tidak anti terhadap modernisasi.
Bahkan, Islam sangat akomodatif terhadap perkembangan zaman selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar agama.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda, yang artinya; “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian,” ketika seorang sahabat mengadu soal tanamannya yang gagal panen.
Menurut Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum Muhammadiyah, hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam memberikan ruang kebebasan pada aspek-aspek duniawi yang tidak diatur secara rinci.
Namun kebebasan itu bukan berarti sebebas-bebasnya. Dalam berinteraksi di media sosial, tetap ada rambu yang mesti dijaga agar tak menyesal di kemudian hari—baik di dunia, apalagi di akhirat.
Niat adalah hal paling mendasar yang harus ditanamkan dalam diri saat bersosialisasi di dunia maya. Jika niatnya baik, maka jari akan lebih selektif dalam memilih teman atau grup yang hendak diikuti.
Seseorang yang sadar akan pentingnya nilai, tentu tidak sembarangan mengonfirmasi permintaan pertemanan dari akun yang mencurigakan, baik dari nama, gambar, maupun isi postingan.
Bila dalam perjalanan pertemanan itu ternyata muncul konten yang menyimpang, maka ia tak ragu memblokir atau melaporkannya. Ini bukan hanya soal menjaga diri, tapi juga menegakkan adab dalam bermedia sosial.
Buya Hamka pernah menanggapi seseorang yang berkata bahwa di Arab, wanita tuna susila memakai cadar. Mendengar itu, Buya menimpali bahwa ia baru saja kembali dari Amerika—negara yang dikenal liberal—namun tak menjumpai hal serupa.
Dengan tenang, Buya berkata, “Kita ini memang hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari. Meskipun berada di Mekkah, bila hati memburu keburukan, maka setan dari golongan jin dan manusia akan membantunya mencarinya.”
Sebaliknya, tambah beliau, “Sejauh apapun kita berjalan—meskipun sampai New York atau Los Angeles—bila yang dicari adalah kebaikan, maka keburukan akan bersembunyi.”
Petuah ini sangat relevan dalam menyikapi dunia media sosial. Kita akan menemukan apa yang kita cari. Maka, carilah kebaikan, jaga niat, dan jalinlah pertemanan yang sehat. Media sosial hanyalah alat. Tapi nilai dan adab kita lah yang menentukan arah dan dampaknya.