Sajadah, awalnya hiasan interior ruangan raja-raja dan kaum bangsawan Anatolia, yang diadaptasi dengan ukuran lebih kecil untuk alat sholat
Karpet Persia dan Oriental buatan tangan telah lama memikat dunia. Dengan desainnya rumit, dan pengerjaannya luar biasa, karpet-karpet tidak hanya merupakan barang fungsional, tapi jadi mahakarya artistik yang mencerminkan kekayaan sejarah, budaya, dan tradisi.
Permadani tertua di dunia yang masih ada, adalah permadani Pazyryk, ditemukan di sebuah makam beku di Pegunungan Altai Siberia. Mahakarya berusia 2.500 tahun ini mencengangkan para sejarawan dan penggemar seni dengan desainnya yang mencolok dan sangat sempurna.
Permadani Pazyryk, memiliki pola yang rumit, warna-warna yang cerah, menawarkan pandangan menarik tentang kerajinan kuno. Pembuatan permadani ini menjadi bukti keterampilan para perajin yang hidup ribuan tahun lalu.
Sementara permadani Persia, tak luput dari perkembangan seni selama era Akhemeniyah. Kekaisaran Akhemeniyah, yang berkembang dari abad ke-6 hingga ke-4 SM, sangat mempengaruhi evolusi karpet Persia.
Tradisi pembuatan karpet awal ini kemudian menjadi dasar bagi desain dan teknik pembuatan karpet Persia di masa mendatang, yang kemudian menjadi bentuk seni seperti kita kenal saat ini.
Kejayaan karpet Persia mulai meredup ketika era Dinasti Safawiyah (1501-1736).
Sejarah karpet lain adalah karpet Tiongkok kuno dan Asia Tengah. Karpet Tiongkok kuno dikenal karena polanya yang khas, sering kali menggambarkan makhluk mitologi, motif simbolis, dan elemen alami seperti bunga dan tanaman.

Karpet di zaman keemasan Islam
Zaman Keemasan Islam, yang berlangsung dari abad ke-8 hingga abad ke-14, memberikan dampak yang mendalam pada dunia pembuatan karpet.
Seiring dengan meluasnya dunia Islam dan menyerap berbagai pengaruh artistik, para perajin karpet bereksperimen dengan bahan-bahan baru, metode menenun, dan teknik pewarnaan, yang menghasilkan produksi karpet yang semakin canggih dan rumit.
Selama era ini, motif dan pola baru muncul, yang mencerminkan tren artistik dan nilai-nilai budaya dunia Islam.
Penggunaan arabesque, motif yang sangat bergaya berdasarkan tanaman dan bentuk geometris yang saling terkait, menjadi ciri khas seni Islam dan banyak dimasukkan ke dalam desain permadani.
Sajadah dan permadani Turki
Karpet Turki yang mempunyai nama lain karpet Anatolia, menurut sejarah berasal dari suku-suku pengrajin karpet dari Asia Tengah yang nomaden, kemudian menetap di kota Anatolia.
Karpet Turki banyak dipengaruhi oleh orang-orang dari negara Yunani yang datang pada abad ke-16 dan abad ke-17.
Kota-kota seperti; Gordes, Kula, Milas, Ladik, Mucur, Kirsehir dan Bandirma menjadi salah satu yang punya anyaman Turki hingga abad ke-18.
Permadani Turki terbaik awalnya digunakan oleh para bangsawan dan Sultan Kekhalifahan Utsmani (Ottoman). Motif Karpet atau permadani kala itu awalnya didominasi gambar binatang, lalu bergeser jadi motif geometri.
Perubahan motif karpet dari gambar binatang menjadi motif geometri tidak lain karena larangan beberapa ulama terkait gambar makhluk hidup.
Salah satu pengaruhnya adalah berkembangnya produknya sajadah untuk sholat dari Mesir, yang masih merupakan wilayah kekuasaan Utsmaniyyah.
Permadani yang awalnya digunakan sebagai alas lantai dan hiasan interior raja-raja dan kaum bangsawan di Anatolia, oleh masyarakat Mesir diadaptasi dengan ukuran yang lebih kecil dan berfungsi sebagai alat sholat, sebagaimana yang kita kenal saat ini.*