Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh
Saya Dahlia Ikawati (37) dan suami 39 tahun dengan satu anak putri 2,5 tahun. Saya ingin mengadu suami yang posesif terhadap saya. Saya dibesarkan di lingkungan keluarga yang progresif sementara suami sebaliknya, dari lingkungan keluarga yang konservatif.
Suami penuh mengontrol saya, dan sudah sangat berlebihan. Bahkan sengaja memantau aktivitas saya, membatasi hubungan saya dengan keluarga dan teman.
Semakin ke sini, saya semakin tidak memiliki kemerdekaan di rumah dan keluarga sendiri. Sudah konsultasi kepada keluarga, hasilnya, semua membela sikap suami. Saya benar-benar merasa tertekan. Bagaimana seharusnya saya mengambil sikap? Mohon kiranya arahan dan nasihat agar lebih kuat dan tabah menghadapinya. jazakumullah khair.
Wassalamu’alaikum Warahmatullah wabarakatuh
Dahlia Ikawati | Malang
Wa’alaikumussalam Warahmatullahi wabarakatuh
Ibu Dahlia dan keluarga yang saya hormati, kami memahami posisi Ibu yang sulit. Apakah posesif itu negatif atau positif?
Pertanyaan ini saya pertanyakan ulang agar Anda tahu, setiap sikap atau tindakan suami ada kelebihan dan kekurangannya.
Kelebihannya, bisa jadi suami Anda adalah sosok yang sangat perhatian, jika sikapnya itu muncul dari keinginannya untuk melindungi dan menjaga Anda. Kalau ini yang terjadi, insya Allah bisa memberikan rasa aman bagi Anda.
Sementara kekurangannya, jika dengan sikapnya itu, suami cenderung sering merasakan stres dan cemas, selalu dibayang-bayangi kekhawatiran tentang kesetiaan Anda. Bahkan pada satu titik tertentu dapat merusak hubungan; menjadi konflik, hilangnya rasa saling percaya, hingga menjauhkan pernikahan mencapai tujuannya sakinah ma waddah wa rahmah.
Sebagai ikhtiar, lakukan hal-hal berikut:
Pertama, tetap tenang dan kontrol emosi dalam situasi apapun, tanpa memojokkan. Ini penting, mengingat kemungkinan Anda sudah tidak tahan menghadapi sikapnya.
Firman Allah SWT, “Mereka (istri-istrimu) adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187).
Kedua, mulailah membuka komunikasi. Ini membutuhkan keterampilan Anda berkomunikasi yang terbuka, tenang untuk menjelaskan hal-hal yang perlu Anda sampaikan.
Hargai perasaannya dulu, bukalah ruang untuk saling mendengarkan akan membantu Anda dan suami menemukan jalan keluar terbaik. Harapannya sebagaimana dalam hadits Nabi ﷺ : “Tidak ada seorang laki-laki yang berlaku kasar kepada isterinya, kemudian ia meminta maaf kepadanya, kecuali Allah akan memaafkan dia.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketiga, ajaklah suami bersilaturahmi dengan tokoh agama atau tokoh keluarga yang memiliki pemahaman agama lebih luas, sehingga dengan bantuannya akan mendorong Anda dan suami melakukan refleksi diri demi keharmonisan rumah tangga.
Ajaklah berdoa bersama, memohon petunjuk dan bimbingan dari Allah. Ingatlah, doa bisa menjadi cara yang kuat untuk membuka hati dan pikiran daan keberkahan keluarga.
Keempat, tidak kalah penting, tetapkan batasan interaksi Anda dengan siapapun. Hal ini untuk memastikan suami Anda memahami apa yang dapat dan tidak dapat diterimanya.
Salah satunya mengenalkan lingkungan perteman (circle) Anda padanya. Boleh jadi sumber munculnya sikap posesif dikarenakan dirinya kurang mengenal teman-teman Anda.
Dan ketika suami tahu lingkungan pergaulan Anda positif, insyaAllah perlahan kami berharap sikap posesifnya berkurang.
Ingatlah, bahwa perubahan tidak terjadi dalam sekejap, maka bersabarlah dan tetap setia dalam mendukung suami untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Wallahu a’lam.*