Perginya Kehormatan Diri

Salah satu penyakit akibat tumpukan sampah informasi yang kita terima adalah hilangnya kehormatan diri

Oleh: Sarah Zakiyah

Setiap hari, mulai saat membuka smartphone, kita akan disuguhi berbagai informasi yang tanpa sadar telah mengotori bahkan meracuni pikiran-pikiran kita. 

Pasalnya, apa yang kita terima bukanlah sekadar informasi, melainkan sampah yang mengotori jiwa. Tumpukan sampah tersebut menggerogoti akal dan mental kita. 

Salah satu penyakit akibat tumpukan sampah informasi yang kita terima adalah hilangnya kehormatan diri. Keinginan untuk selalu tampil sempurna di hadapan publik dunia maya, memaksa seseorang untuk terus memperbarui keadaan dirinya berupa penyakit “sok sempurna” kepada khalayak ramai.

Ketika unggahan tentang dirinya menjadi viral tapi tidak sesuai dengan kemauan netizen, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari ribuan alasan bahkan penguat dengan mengunggah informasi tentang dirinya lebih banyak, lebih terbuka dari sebelumnya, agar kehormatan dirinya kembali.

Fenomena media sosial yang menjejali pikiran dan perasaan manusia hingga mampu mengangkat atau menjatuhkan kehormatan diri seseorang sangat melelahkan. 

Tanpa sadar kita lupa bahwa kehormatan diri tidak butuh pengakuan manusia. Kita juga lupa bahwa nilai pribadi seseorang bukanlah diukur dari seberapa terkenal dan tidaknya seseorang di mata netizen.

Dunia maya sedikit-demi sedikit menggerus nilai kepribadian seseorang dan menjatuhkan kehormatan diri –yang seharusnya dijaga— dengan cara menyimpan hal pribadi, justru diumbar kepada orang lain. 

Padahal penilaian manusia, khususnya netizen di dunia maya tidaklah dapat dijadikan pengukur bagi tinggi atau rendahnya kehormatan diri seseorang. 

Mari kita belajar tentang nilai dan kehormatan diri dari seorang sahabat Nabi Muhammad ﷺ bernama Abu Dhomdhom. 

Berita tentang pahala-pahala sedekah selalu terngiang di telinga Abu Dhomdhom. Namun apa daya, dia tidak memiliki harta yang dapat dia sedekahkan, walau setiap hari, usaha untuk mendapatkannya dia lakukan. 

Dia tidak kehilangan akal untuk mendapatkan pahala sedekah walau tidak ada harta yang dapat dia sedekahkan. 

Caranya, setiap hari, ketika dia melangkahkan kakinya untuk menapaki jalan rezeki, dia melambungkan doa ke arsy Ar-Roziq; “Ya Allah, hari ini aku menyedekahkan kehormatan diriku kepada hamba-hamba-Mu.”

Ya, setiap hari orang yang dipanggil dengan nama Abu Dhomdhom itu menerima semua perlakuan orang lain terhadapnya dengan maaf dan kelapangan dada. 

Dia membalas setiap caci-maki dengan senyum, membalas kebencian dengan cinta, membalas kedengkian dengan kemurahan hati yang sangat menawan.

Sedekah Abu Dhomdhom memesona penduduk langit dan bumi, hingga akhirnya baginda Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabatnya, yang artinya; 

“Apakah kalian merasa lemah dan tidak bisa menjadi seperti Abu Dhomdhom?” “Siapakah dia wahai Rasulullah?” “Dia adalah orang yang jika matahari pagi menyapanya, dia berkata, ‘Ya Allah, aku bersedekah dengan kehormatan diriku untuk hamba-hamba-Mu.’

Sungguh kehormatan diri dan nilai seseorang bisa didapatkan dari berbagai bentuk sedekah. Dari sekadar menyingkirkan gangguan di jalan, tersenyum kepada saudara muslim, mengumbar semua informasi pribadi, hingga berlapang dada caci maki manusia, bukan dari pengakuan netizen dunia maya.*