Penyuluh Cahaya di Tepi Sungai Kandilo

Ustadz Abdul Rahim

Penyuluh Cahaya di Tepi Sungai Kandilo

Masjid kayu di tepi Sungai Kandilo yang mulai lapuk dimakan usia bahkan bisa ambruk setiap saat, tapi pembelajaran Al-Quran harus terus berjalan 

Masjid sederhana itu berdiri tepat di tepi Sungai Kandilo. Tiang dan dindingnya terbuat dari kayu dan papan, tersusun berbentuk rumah panggung, seperti halnya rumah-rumah masyarakat setempat.

Struktur rumah panggung dibuat karena lebih aman. Jika malam tiba, air sungai biasanya pasang dan meluap. 

Dari masjid ke rumah penduduk terdekat terhubung dengan jembatan kayu untuk menghindari genangan air di malam hari.

Masjid itu berlokasi di Desa Suliliran, Kecamatan Paser Belengkong, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Di masjid inilah Ustadz Abdul Rahim meniti jalan dakwah.

Naik Perahu

Meski sederhana, masjid itu tak pernah sepi. Setiap hari tidak kurang dari 50 anak dan remaja belajar dan mengaji Al-Quran.

Seperti sore itu, ketika Mulia mengunjunginya. Abdul Rahim tengah menanti para santri, anak-anak sekitar Sungai Kandilo yang akan mengaji.

Meski gerimis, satu per satu santri datang dengan penuh semangat. Mereka datang dari arah sungai, menaiki perahu kecil dari desa masing-masing.  

Mereka datang diantar kakek, ayah, ibu, bahkan ada yang menumpang perahu tetangga agar bisa mengaji. 

Abdul Rahim menyambut anak-anak dengan hangat, mengumpulkannya di dalam masjid, lalu memulai kegiatan belajar.

“Alhamdulillah, anak-anak mulai lancar membaca al-Qur’an. Beberapa anak sudah memiliki hafalan surah-surah pendek,” ucap ayah enam orang anak ini.

Intaian Buaya

Kegiatan pembelajaran mengaji Al-Quran ini biasanya berakhir jika hari mulai gelap. Seperti biasa, santri dijemput keluarga masing-masing.

Namun jika ada yang belum dijemput, Abdul Rahim terpaksa harus mengantarkannya pulang dengan perahu kayu ke rumah masing-masing.

“Kasihan anak-anak kalau kembali sudah gelap lewat sungai,” paparnya.

Abdul Rahim tidak banyak bercerita mengenai bahaya di sepanjang sungai ketika gelap atau malam. Sudah banyak berita penampakan buaya di aliran Sungai Kandilo. 

Tak sedikit pula berita tentang warga yang naas diterkam buaya.  

Bagi pria yang tumbuh dan besar di tepian sungai ini, ancaman reptil bertubuh besar ini tak menjadi penghalang baginya. 

Dari Desa ke Desa

Selain mengajar al-Quran, tugas rutin Abdul Rahim rutin menjadi pemateri pengajian dan khutbah Jum’at di sejumlah desa sepanjang Sungai Kandilo. 

Pria berusia 45 tahun itu mengaku memulai dakwah sejak 2004 silam. Sejak awal ia memilih pesisir dan tepi sungai, untuk mendedikasikan diri mendidik anak-anak dan warga agar lancar membaca al-Qur’an.

Pendekatan dengan al-Qur’an terbukti bisa diterima semua golongan. Sebagai putra daerah, ia juga diuntungkan karena bisa memahami dan mengerti bahasa serta adat istiadat setempat. 

Tantangan dakwah tentulah ada, utamanya kondisi alam kawasan sungai.  Sebagian besar wilayah hanya bisa diakses dengan sarana transportasi perahu. 

Di antaranya Desa Laburan Lama, Desa Laburan Baru, Desa Pepara, Desa Sungai Tuak, Desa Belebak, Kelurahan Tanah Grogot, dan Desa Rantau Panjang.

Pernah suatu kali mesin perahunya mati. Terpaksalah ia harus berjuang mendayung sendiri dalam keadaan gelap.

“Syukurnya jadwal dakwah kami di daerah hulu, jadi perahu tinggal mengikuti arus air sungai,” jelasnya.

Sinergi Dakwah

Awal terjun Abdul Rahim berdakwah relatif “sendirian”. Selain menjadi da’i, ia juga menjadi nelayan, bertani, beternak untuk menafkahi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya. 

Tahun 2019, atas izin Allah SWT, Abdul Rahim berkenalan dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Ia bersyukur karena kini aktivitas dakwahnya mendapatkan dukungan dari para donatur BMH.

Melalui BMH ia mendapat bantuan donatur berupa pengadaan perahu dakwah, sepeda motor dakwah, kafalah da’i, mendirikan rumah al-Qur’an, sebar al-Qur’an dan mukena, hingga Program Qurban bersama masyarakat pesisir.

“Kini lebih ringan terasa setelah mengenal BMH,” ujarnya.

Beberapa anaknya disebar menuntut ilmu di Pondok Pesantren Hidayatullah, agar bisa melanjutkan dakwahnya.

“Ada yang di Balikpapan, di Surabaya. Semoga mereka bisa menjadi da’i-da’i berkompeten dan menyebarkan Islam ini lebih luas,” harapnya.

Masjid kayu di tepi Sungai Kandilo yang mulai lapuk dimakan usia, dijadikan pusat kegiatan dakwahnya. Sewaktu-waktu, masjid ini bisa diterpa arus sungai yang meluap, bahkan bisa saja ambruk. 

Meski demikian, Abdul Rahim mengaku dakwahnya tidak boleh berhenti. Mengingat masih banyak masyarakat pesisir yang memerluka cahaya al-Qur’an.*/Siraj el-Manadhy