Panggilan Hati di Pulau Bali

Ustadz Muhammad Yusuf

Panggilan Hati di Pulau Bali

Di kawasan wisata, dimana para turis mancanegara, justru ia ingin mendirikan Rumah Quran 

Sekitar tahun 2009, Yusuf baru saja menyelesaikan pendidikan pesantren dan SMA di Sidoarjo. Sang paman kemudian mengajaknya ke Bali. 

Bukannya diajak liburan, ia justru diarahkan menjadi takmir di salah satu masjid di pulau wisata itu. Yusuf dikenalkan dengan pengurus Pesantren Hidayatullah Bali dan ditawari mengajar di sana.

Lambat laun, kiprah Yusuf dalam dakwah semakin luas. Ia mulai terjun ke kampung-kampung di wilayah Bali, hingga saat ini.

Kampung Muslim

Salah satu lokasi dakwahnya berada di Kampung Kusamba, salah satu di antara tiga desa Muslim di Kabupaten Klungkung. Dua desa lagi adalah Toyapakeh dan Gelgel. 

Di Kusamba ada 200-an kepala keluarga. Di desa inilah Yusuf banyak menghabiskan waktunya untuk mengajar al-Qur’an.

Ia kemudian memilih menetap di kampung tersebut. Rumahnya menjadi tempat belajar mengaji bagi 107 anak.

Setiap hari anak-anak datang secara berkelompok. Waktunya dari pagi hingga usai shalat Isya’. 

Yusuf dan Istiqomah –istrinya- bergantian mengajar, dibantu tiga warga yang tadinya belajar mengaji di rumahnya.

Salah satu warga yang membantu mengajar itu adalah mualaf. Satu lagi anak dari mualaf itu. 

Karena kegigihannya belajar, keduanya kini sudah mampu mengajar anak-anak lainnya mengaji.

Pertama kali tiba di Kusamba, Yusuf menyewa sebuah rumah. Di sinilah ia mulai mengajar al-Qur’an.

“Awalnya jumlah santri hanya dua orang. Ya, ibu dan anak yang mualaf itu,” cerita pria kelahiran 18 Juli 1988 ini.

Rupanya kegiatan mengaji itu menarik perhatian kepala desa setempat. Dia bahkan menawarkan agar kegiatannya pindah ke sebuah ruko pemerintah desa.

Masyarakat sekitar sempat pesimis karena selama ini respons terhadap kegiatan mengaji sangat kurang. “Kalau diundang, tidak lebih dari 20 orang yang datang,” kata Yusuf menirukan komentar masyarakat.

Namun Yusuf dan istrinya tak mundur. Ia memberanikan diri mengundang sekitar 50 warga untuk datang pada acara pembukaan Majelis Qur’an Hidayatullah.

Tanpa diduga, yang datang justru lebih banyak dari perkiraan. “Begitu pendaftaran santri dibuka, langsung penuh,” ungkapnya.  

Satu keluarga ada yang mendaftarkan tiga anaknya, ada juga yang dua, atau satu.

Kini, kegiatan Yusuf menempati tanah dan bangunan yang dibeli oleh seorang muhsinin dan diserahkan kepadanya. Luas lahannya sekitar tiga are atau 300 meter persegi.

Selain mengajar mengaji, Yusuf juga keliling ke masjid-masjid hingga rumah-rumah warga untuk mengisi taklim dan kajian umum.

“Alhamdulillah, dengan armada dakwah berupa sepeda motor dari BMH dan YMB BRILiaN, kami tancap gas. Dakwah kami bisa lebih leluasa,” ujarnya.

Menjangkau Nusa Penida

Area dakwah Ustadz Muhammad Yusuf kini menjangkau pulau Nusa Penida. Sebuah pulau destinasi wisata incaran turis mancanegara, yang juga masuk wilayah Kapupaten Klungkung.

Untuk mencapai Nusa Penida, Yusuf harus menyeberang dengan perahu speed boat. Biayanya lumayan. 

Selain perlu ongkos menyeberang, juga harus menyewa motor di pelabuhan agar bisa bepergian dengan mudah.

Sebenarnya bisa saja menyeberang sekaligus membawa motor. Namun harus naik kapal feri yang akan memakan biaya lebih besar lagi.

Itulah sebabnya Yusuf belum bisa terlalu sering ke Nusa Penida. “Saya hanya datang sekali-kali saja,” uajarnya.

Yusuf akan menyeberang bila ada kegiatan mengisi majelis taklim di masjid atau di rumah warga, menghadiri undangan hajatan, atau bersilaturahmi dengan warga binaan.

Ia mulai berdakwah di Nusa Penida bersamaan dengan meletusnya Gunung Agung di Karangasem, sekitar tahun 2018. 

Namanya kawasan wisata, suasananya ramai dan tempatnya menawan. “Pasirnya putih, pantainya indah,” terangnya.

Saat ini ia sedang berusaha mendapatkan sebidang tanah untuk mendirikan Rumah Qur’an di Nusa Penida. 

Jika Rumah Qur’an sudah berdiri, langkah selanjutnya adalah mengirim da’i muda yang siap tinggal di sana. Begitulah rencana Yusuf.

Sampai saat ini, rencana tersebut belum terwujud. Pernah ada tanah kosong yang sebenarnya cocok untuk Rumah Qur’an. Namun, harganya sangat mahal.

“Saya selalu menyampaikan berkeinginan mendirikan Rumah Qur’an di pulau ini di setiap momen. Tapi belum ada yang merespons,” ujarnya.

Harga tanah di Nusa Penida memang selangit. Tanah seluas satu are atau 100 meter persegi mencapai Rp 700 juta. Terang saja Yusuf belum bisa menyediakan uang sebanyak itu.

Ia tak patah semangat. Selain berdoa ia juga terus berusha. Semoga suatu hari nanti bisa bertemu muhsinin yang tergerak untuk mewakafkan tanah. “Bila Allah Ta’ala mengabulkan, kami akan segera mendirikan Rumah Qur’an di pulau tersebut,” ujarnya.*/Siraj