Menyembelih Ego, Menumbuhkan Empati

Allah tidak butuh darah dan daging, tapi Allah ingin melihat sejauh mana kita mau berbagi dan peduli 

Idul Adha hadir setiap tahun bukan hanya sebagai seremonial penyembelihan hewan qurban, tapi sebagai momentum spiritual dan sosial yang dalam maknanya. 

Ibadah qurban merupakan refleksi dari ketaatan mutlak seorang hamba kepada Tuhannya, sekaligus wujud kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama manusia.

Ibadah yang Disyariatkan

Allah SWT memerintahkan qurban sebagai bentuk pendekatan diri (taqarrub) kepada-Nya. Dalam Al-Qur’an disebutkan: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2).

Perintah ini menegaskan bahwa ibadah qurban bukanlah sekadar penyembelihan hewan, tapi bagian dari ritual ibadah yang penuh nilai ketundukan kepada Allah.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menafsirkan ayat ini sebagai “perintah untuk menggabungkan dua ibadah yang agung: shalat sebagai ibadah tubuh dan qurban sebagai ibadah harta.” 

Ini menandakan pentingnya keseimbangan antara aspek spiritual dan material dalam Islam.

Teladan Nabi Ibrahim  

Kisah Nabi Ibrahim ‘alayhis salam yang siap menyembelih putranya, Ismail, adalah simbol dari puncak ketundukan dan keikhlasan. Allah SWT mengabadikan peristiwa itu:  “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. As-Saffat: 106)

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa salah satu hikmah dari qurban adalah “tarku mahbubin li syauqil mahbubi” – meninggalkan sesuatu yang kita cintai karena kerinduan kepada yang lebih dicintai, yaitu Allah.

Dimensi Sosial 

Meskipun qurban adalah ibadah mahdhah (murni kepada Allah), Islam tidak pernah memisahkan aspek spiritual dari kepentingan sosial. Rasulullah ﷺ bersabda: “Makanlah daging qurban, sedekahkanlah, dan simpanlah sebagian.” (HR. Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa daging qurban tidak hanya untuk dinikmati oleh keluarga penyembelih, tapi juga untuk diberikan kepada orang lain, khususnya fakir miskin.

Al-Imam Nawawi dalam Syarh Muslim menjelaskan, “Disunnahkan membagi daging qurban menjadi tiga bagian: sepertiga untuk keluarga, sepertiga untuk disedekahkan, dan sepertiga untuk disimpan.” 

Ini mencerminkan keadilan, kepedulian, dan kesadaran sosial dalam ibadah qurban.

Merajut Kepedulian dan Ukhuwah

Qurban menjadi sarana membangun empati, ukhuwah, dan rasa kebersamaan. Dalam masyarakat modern yang kerap terbelah oleh sekat ekonomi dan sosial, ibadah ini menjadi pengingat bahwa keberkahan harta tidak pada akumulasi, melainkan pada kebermanfaatannya bagi orang lain.

Ibadah qurban tidak boleh dimaknai secara sempit sebagai ritual tahunan semata. Ia adalah ibadah yang menyatukan dimensi ubudiyah dan kemanusiaan. Sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37).

Karena itu, Syeikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, pernah berkata: “Allah tidak butuh darah dan daging itu, tapi ingin melihat sejauh mana engkau mau berbagi dari apa yang engkau cintai.”

Mari jadikan Idul Adha dan ibadah qurban sebagai momen untuk meningkatkan ketakwaan dan menumbuhkan kepedulian sosial. Sebab sejatinya, berqurban bukan hanya menyembelih hewan, tapi menyembelih ego, keserakahan, dan keacuhan terhadap sesama. [] AR

Mereka Berjuang dan Bertahan, Kita Berbagi

Jika mereka tetap berdiri di garis depan mempertahankan kehormatan Islam, tidaklah pantas diri kita hanya diam di garis nyaman

Momen Idul Adha seharusnya menjadi waktu penuh suka cita bagi umat Islam di seluruh dunia. Namun sejak 7 Oktober 2023, dunia Islam kembali disayat luka yang dalam. 

Genosida brutal yang dilakukan oleh penjajah ‘Israel’ di Jalur Gaza telah merenggut lebih dari 51 ribu nyawa, menghancurkan rumah-rumah, rumah sakit, bahkan lebih 1000 masjid—tempat manusia sujud pada Allah Swt.

Di saat kita sibuk memilih hewan qurban terbaik, saudara-saudara kita di Gaza sedang memilih tempat berlindung dari bom dan reruntuhan puing. 

Di saat kita menghitung anggaran untuk membeli sapi atau kambing, mereka kehilangan seluruh keluarga tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal, bahkan sedang mengais sampah agar ada yang dimakan. 

Bagaimana mungkin hati ini tetap tenang dan damai jika qurban yang kita lakukan tak menghadirkan rasa peduli pada penderitaan mereka?

Allah SWT berfirman:  “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37).

Ayat ini dengan jelas mengingatkan bahwa hakikat qurban bukan pada fisik hewan yang disembelih, tapi pada ketulusan niat, keikhlasan berbagi, dan solidaritas terhadap sesama manusia.

Inilah momen di mana semangat pengorbanan Nabi Ibrahim perlu diwujudkan dalam bentuk nyata: berbagi untuk mereka yang hari ini bahkan tidak tahu apakah mereka akan hidup esok hari.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai dan mengasihi itu seperti satu tubuh. Jika satu bagian tubuh sakit, maka seluruh tubuh merasakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Gaza adalah bagian dari tubuh kita. Derita mereka adalah luka bagi kita semua. Maka mari jadikan ibadah qurban tahun ini sebagai bentuk nyata dari solidaritas dan dukungan kepada Palestina. 

Salurkan sebagian rezeki qurban –atau infaq dan sedekah— kita untuk membantu mereka yang kehilangan segalanya. Bahkan jika tidak dalam bentuk hewan/harta,  bantu dengan doa, donasi, edukasi, dan penyebaran informasi.

Qurban adalah momentum penting untuk melatih diri agar tidak hanya taat kepada Allah, tetapi juga peduli pada kondisi kemanusiaan umat. 

Islam tidak pernah mengajarkan ibadah yang egois dan individualis. Setiap ibadah pasti memiliki dimensi sosial, dan idul qurban adalah salah satu puncaknya.

Maka, saat kita menyalakan tungku untuk memasak daging qurban, bayangkan saudara-saudara kita yang tidak memiliki dapur lagi. Saat kita menyantap makanan bersama keluarga, ingatlah mereka yang hanya bisa menangis karena kehilangan seluruh keluarganya. 

Dan saat kita tertawa bahagia dalam suasana Idul Adha, doakan Gaza—mereka yang sedang berjuang agar bisa hidup sehari lagi.

Qurban yang Membumi, Kepedulian yang Menjulang

Idul Adha kali ini, jangan jadikan qurban hanya sebagai formalitas tahunan. Mari wujudkan semangatnya dalam bentuk yang paling nyata: mengulurkan tangan, meneteskan air mata, dan menguatkan doa untuk rakyat Gaza yang sedang dibantai tanpa ampun.

Qurban adalah tentang berbagi. Dan tidak ada yang lebih mulia dari berbagi dengan mereka yang sedang kehilangan segalanya, hanya karena mereka memilih untuk tetap menjadi Muslim dan tetap bertahan mempertahankan tempat suci kita, Masjid Al-Aqsha.

Di balik kabar duka yang setiap hari datang dari Gaza dan Palestina, ada satu kenyataan pahit yang seharusnya mengetuk nurani setiap Muslim: mereka tetap berdiri di garis depan mempertahankan kehormatan Islam, maka apakah pantas diri kita hanya diam di garis kenyamanan?

Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya: “Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan berempati, adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.” (HR. Thabrani). 

Pertanyaannya, jika kita tidak merasakan sakit atas luka mereka, maka kita patut bertanya kepada diri sendiri: apakah kita masih menjadi bagian dari tubuh umat ini? [] AR

Peringatan Ulama pada Kaum yang Tak Peduli

Imam al-Munawi mengatakan, Muslim tidak peduli atas musibah yang menimpa umat Islam, telah keluar dari akhlak Islam, bahkan bisa terjerumus kemunafikan

Iman itu bukan sekadar ucapan, tapi harus tercermin dalam sikap nyata, termasuk peduli terhadap musibah yang menimpa umat Islam.

Para ulama memperingatkan kaum yang tidak peduli sesame –khususnya kepada saudaranya yang terkena musibah—sebagaimana yang ditimpa saudara-saudara kita di Gaza, Palestina hari ini.

Berikut adalah kutipan tegas dari para ulama terkait kewajiban peduli terhadap saudara Muslim. Kutipan ini memperlihatkan betapa seriusnya masalah ketidakpedulian terhadap penderitaan sesama umat Islam dalam pandangan syariat.

Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H)

Dalam kitab Raudhatul Muhibbin, beliau menulis: “Tidaklah sempurna iman seseorang, hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. Maka bagaimana bisa seseorang mengaku beriman, tapi tidak peduli terhadap penderitaan saudaranya?” (Raudhatul Muhibbin, Ibn Qayyim al-Jauziyyah, hal. 297)

 Imam al-Ghazali (w. 505 H)

Dalam Ihya Ulumuddin, beliau menegaskan: “Jika seorang Muslim tidak merasakan sakit atas musibah yang menimpa umat Islam, maka hilanglah tanda-tanda kasih sayang dalam hatinya, dan itu tanda rusaknya iman.” (Ihya’ Ulumuddin, Jilid 2, hal. 223)

Imam al-Munawi (w. 1031 H)

Dalam Fayd al-Qadir saat mensyarah hadis: “Barangsiapa tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia bukan dari golongan mereka.” (HR. Thabrani, dihasankan oleh Al-Haitsami)

Al-Munawi menjelaskan: “Yakni orang tersebut telah keluar dari akhlak Islam, bahkan bisa terjerumus ke dalam kemunafikan.” (Fayd al-Qadir, al-Munawi, 6/353). [] AD