Menyemai Hidayah di Mentawai

Bukti penerimaan dakwah dari warga, ia menikahi gadis asli Suku Mentawai 

Peluh keringat di wajah ustadz muda itu kian bercucuran. Sudah lebih dari satu jam ia mendorong sepeda motor bututnya yang pecah ban di jalan setapak tanah dan bebatuan, di belantara hutan pulau Sipora, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Jangankan bengkel, di sekelilingnya tidak ada satupun rumah dan makhluk hidup. Apa boleh buat, ia hanya bisa mendorong motornya menuju tempat tujuan, berkilo-kilometer jaraknya.

Ustadz muda itu bernama Ledifal Bahrudin. Saat itu ia sedang menuju sebuah kampung di pedalaman Sipora untuk menjadi khatib shalat Jumat.

Sejatinya, Ledifal sudah berangkat dari rumah sejak pukul 10.00 waktu setempat. Namun baru separuh perjalanan, ban sepeda motornya pecah.  

Tiba di masjid, waktu sudah menunjukkan pukul 13.00. Jamaah yang sedari tadi menunggu, semuanya telah kembali ke rumah-masing-masing dan belum melaksanakan shalat Jumat, karena tidak ada yang mau menjadi imam.

“Akhirnya kami harus memanggil mereka satu per satu agar kembali ke masjid,” cerita pria kelahiran 17 Maret 1995 itu.

Karena hal serupa tak hanya sekali terjadi, masyarakat menjadi apatis. Mereka baru datang ke masjid untuk menunaikan shalat Jumat jika ustadznya sudah tiba. 

Itulah salah satu realitas dakwah di pedalaman Kepulauan Mentawai. Selain karena keterbatasan fasilitas dan kondisi jalan yang belum baik, juga pemahaman serta praktik keagamaan masyarakat yang masih memprihatinkan.

“Wajar saja karena mereka ini rata-rata mualaf. Dari segi ketaatan, mereka memang belum begitu kuat. Mereka masih sangat membutuhkan pembinaan keislaman, dan ini adalah pekerjaan rumah kami,” terang pemuda asli dari Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut.

Makan daging babi

Dakwah Ustadz Ledifal di Pulau Sipora bermula pada akhir tahun 2018. Usai lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok, ia diamahkan bertugas di Pondok Pesantren Hidayatullah Kepulauan Mentawai.

Mayoritas masyarakat adalah non-Muslim dengan toleransi cukup tinggi. Hal ini memudahkan Ledifal memulai pendekatan dakwah.

Tidak sedikit Bahkan di Pesantren orang tua beragama Kristen, menyekolahkan anaknya di Pesantren Hidayatullah. Bahkan banyak yang membiarkan anak-anaknya memeluk Islam. 

“Asalkan mereka bisa sekolah,” ungkap Ledifal.

Namun celakanya, masyarakat Muslim justru kurang peduli agamanya. Mereka yang mualaf atau muslim sudah lama, rata-rata masih minim pengetahuan agamanya.

“Mohon maaf, banyak kami dapati, sudah memeluk Islam, tapi masih makan daging babi,” ujarnya.

Kondisi di atas membuat Ledifal makin bersemangat untuk berdakwah. Ia memulai silaturahmi dan membangun kedekatan dengan masyarakat setempat.

Program pertama yang diberikan adalah penanaman aqidah, khususnya bagi para mualaf. Kemudian mengajarkan tata cara dan bacaan shalat, belajar al-Qur’an, juga pemahaman-pemahaman syariat mendasar, haramnya memakan daging babi.

Mempersunting gadis mentawai

Salah satu kendala paling terasa adalah kondisi alam. Jalanan tanah khas pedalaman dan jarak lokasi dakwah berjauhan.

Sementar alat transportasi yang tersedia hanyalah sepeda motor bebek butut milik pesantren yang harus dipakai bergantian. Padahal motor satu-satunya ini tidak layak di medan berlumpur dan bebatuan.

“Bagaimana lagi, dakwah harus tetap jalan,” ucapnya.

Kebutuhan makan sehari-hari saja kadang masih kesulitan, bagaimana mau membeli motor, begitu pikirnya. Sementara dakwah harus jalan terus.

Jangan bayangkan berdakwah di pedalaman seperti ini dapat biaya transport layaknya di kota. Meski demikian, ia ingat janji Allah dalam Al-Quran; “Siapa yang menolong agama Allah, pasti Allah akan menolongnya.”

Sampai akhirnya seorang donatur, melalui Laznas BMH, ia mendapatkan bantuan sepeda motor jenis trail dari YBM BRILiaN. Tak hanya itu, ia juga mendapatkan bantuan kafalah untuk biaya hidup dan operasional dakwahnya.

“Alhamdulillah, kendala dakwah kami terselesaikan,” ujarnya penuh syukur.

Langkah dakwah Ledifal semakin lancar. Masyarakatnya pun menerima dengan baik. 

Pelan tapi pasti, masyarakat di daerah pulau Sipora semakin baik pemahaman dan pengamalan agamanya.

Salah satu bukti penerimaan dari warga setempat, Ledifal telah menikahi warga lokal, gadis asli suku Mentawai bernama Febrian Hazrani. Kebahagiannya kian lengkap usai mereka dikaruniai seorang putra.

“Insya’ Allah, kebahagiaan ini menjadi penyemangat dakwah kami,” pungkasnya.*/Siraj el-Manadhy