Menyebutkan Amal Menghapus Pahala?

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh 

Ustadz saya mau tanya, suatu hari kami kedatangan ponakan2 ke rumah. Karena semangat ingin memotivasi, kami keceplos pengalaman-pengalaman agar beramal sholeh. Salah satunya saya terlepas perkatakan pernah ‘bersekah ini dan itu’. Pas sampai mereka pulang, saya ingat saya khilaf. Betapa bodohnya saya ‘memamerkan’ amal, apakah perkataan –yang tujuan awalnya—untuk memotivasi itu bisa menghapus amalan saya? Wassalam 

Sailendra, Kupang

Waalaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh. Dua hal yang menjadi tantangan besar saat seseorang beribadah adalah riya’ dan sum’ah. Riya’ adalah beramal/ibadah dengan tujuan untuk mendapatkan pujian manusia. 

Motif buruk tersebut dalam istilah Nabi termasuk dalam al-syirk al-ashghar (sirik kecil) yang tetap saja berdosa dan amalnya menjadi tertolak. 

Adapun yang dimaksud dengan sum’ah menurut al-‘Izz ibn ‘Abd al-Salam -sebagaimana dinukil Ibn Hajar al-‘Asqalani- adalah mengungkap dan membicarakan ibadah yang dilakukan dengan tujuan meraih hal yang sama dengan riya’ yaitu pujian, sanjuangan, penghormatan dan sejenisnya. 

Kecaman Allah terkait hal ini tampak jelas saat mensifati orang yang mendustakan agama. Mereka adalah pemilik sikap: “Orang-orang yang berbuat riya’” (QS.al-Ma’un:6).

Nabi ﷺ juga menguatkan kecaman kepada orang yang berbuat pamer amal dengan besabda yang artinya: ”Barangsiapa berbuat sum’ah, maka Allah akan membalas amalnya dengan sum’ah itu saja. Dan barang siapa berbuat riya’, maka Allah akan membalasnya dengan riya’ itu saja (tanpa pahala).” (HR. Muslim)

Namun, perlu diingat bukan berarti karena khawatir riya’ dan sum’ah lantas semua ibadah dianjurkan untuk dilakukan dengan cara tersembunyi. 

Ada beberapa ibadah yang tidak mungkin disembunyikan seperti berperang, shalat jama’ah, haji, umrah dan sebagainya. Tugas pelaku ibadah dalam hal ini adalah adalah menjaga hati untuk tetap bersih dari tujuan pamer dan berbangga diri (‘ujub). 

Pada kasus lain, dengan niat yang benar, dalam hal sedekah, Allah memuji dua pola sekaligus baik yang sedekah sembunyi-sembunyi maupun ditampakkan. Allah berfirman:

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Jika kalian menampakkan sedekah-sedekah kalian, maka itu baik. Dan bila kalian menyembunyikannya dan memberikannya kepada orangh-orang fakir, maka itu lebih baik. ” (QS.Al-Baqarah:271)

Ibn Hajar al-Haitami mengatakan selama suatu ibadah terbebas dari cacat-cacat tersebut dan pula tidak ada unsur menyakiti orang lain, bahkan terdapat potensi dan tujuan mendorong orang lain untuk mengikuti kebaikan tersebut, maka hal demikian adalah lebih utama. Ia memberi alasan bahwa perbuatan demikian adalah derajat para Nabi dan para pewarisnya yaitu para ulama pemberi contoh. (al-Zawajir ‘an Iqtiraf al-Kaba’ir:I/77)

Dalam rangka memotivasi Nabi juga tidak segan menyebut amalnya, ketika beliau bersabda yang artinya: “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepda Allah. Sungguh dalam sehali aku bertaubat kepada Allah seratus kali. ” (HR: Muslim)

Berdasar pada uraian di atas dapat diayakini, bahwa saat Anda menyebutkan beberapa amalan Anda berupa beberapa sedekah yang telah Anda lakukan, tidaklah merupakan kesalahan. 

Tampak dari penjelasan Anda bahwa itu murni dengan tujuan memotivasi bukan yang lain. Bahkan itu adalah merupakan bagian pendidikan pada keluarga. Wallahu a’lam.*