Mentaati Sunnah Meskipun Berat

Kondisi saat ini, berpegang teguh dengan sunnah sungguh menjadi hal yang sangat berat, dibutuhkan murabbi hebat 

Salah satu konsekuensi keimanan, yaitu menerima dan mentaati ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan terhadap sunnah (meneladani Rasulullah ﷺ) merupakan bukti keimanan sekaligus bentuk ketaatan pada Al-Quran. 

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 36). 

Abdullah bin ‘Amr r.a menceritakan bahwa ketika terjadi peristiwa pengepungan Thaif, Rasulullah ﷺ tidak mendapatkan sesuatu apapun. Lalu beliau bersabda: “Insya Allah besok kita akan kembali pulang.” Para sahabat bertanya, “Apakah kita akan kembali padahal kita belum menaklukkan sesuatu pun?” Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka: “Kalau begitu, pergilah kalian besok pagi untuk memerangi mereka.” Keesokan harinya mereka berangkat perang sehingga mereka banyak yang terluka. Lantas Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka: “Besok kita akan kembali pulang.” Abdullah bin ‘Amru berkata, “Merekapun merasa heran dengan hal itu. Kemudian Rasulullah ﷺ tertawa..”. (Shahih al Bukhari, Kitab al Maghazi, no. 4325,  5/156. Shahih Muslim, Kitab al Jihad wa as Sair, no. 1778, 3/1402). 

Hadis ini menggambarkan orang yang menyelisihi sunnah dan perintah Rasulullah ﷺ . Padahal sudah jelas perintah itu datang dari Rasulullah ﷺ. 

Karena itulah  Allah SWT berfirman yang artinya: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS: An Nur: 63)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa perintah Rasulullah ﷺ mencakup jalan, ajaran, sunnah, dan syari’atnya. Maka seluruh perkataan dan perbuatan (manusia) ditimbang dengan perkataan dan perbuatan beliau.  (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Quran al ‘Adzhim, 6/82). 

Saat ini tantangannya tentu jauh lebih berat akibat terjadinya perubahan dan perkembangan. Kemajuan zaman menjadikan pikiran semakin rasional sehingga cenderung sulit menerima ajaran sunnah yang dianggap tidak ilmiah dan tidak modern.

Hal tersebut diperparah dengan arus sekularisme dan liberalisme di berbagai bidang kehidupan.  Agama tidak boleh mengatur kehidupan bernegara dan bermasyarakat, agama adalah urusan pribadi.

Akibat ideologi-ideologi rusak ini manusia sulit membedakan antara yang hak dan yang batil. Boleh jadi kehidupan saat ini sudah termasuk kategori akhir zaman sebagaimana disebutkan dalam berbagai riwayat hadits.

Kerusakan akhir zaman telah digambarkan Rasulullah ﷺ bahwa di antara tanda-tanda kiamat adalah terjadinya fitnah-fitnah besar yang menyebabkan bercampur aduknya antara kebenaran dan kebatilan. 

Pada saat itu iman mudah goyah sehingga seorang yang di waktu pagi beriman, bisa menjadi kafir di waktu sore hari, atau sebaliknya. 

Dalam kondisi seperti ini, berpegang teguh dengan sunnah sungguh menjadi hal yang sangat berat, sebagaimana digambarkan Rasulullah ﷺ ; “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (Sunan at Tirmidzi, Bab al Fitan, no 2260, 4/526).

Di sinilah dibutuhkan peran murabbi dan pendidik yang selalu mengingatkan dan memotivasi, memberi teladan agar bersikap sabar dan istiqomah menjalankan syariat. Wallahu Ta’ala A’lam.*