Menguatkan Harapan Suku Anak Dalam

Ustadz Bima Ardiansah

Menguatkan Harapan Suku Anak Dalam

Sebagian masyarakat masih percaya, jika ada wanita melahirkan, tidak boleh di rumah, tapi harus ditempatkan di tengah hutan sendirian 

Siang itu hujan turun dengan derasnya. Ustadz Bima Ardiansah tak bisa ke mana-mana, padahal sejak pagi anaknya terserang demam. Badannya mengigil.

Cobaan lain di hari itu, ia tak memiliki uang sepeserpun. Jangankan membeli obat, membeli kebutuhan makanan saja tidak bisa. 

Ditambah lagi, pria kelahiran Jambi, 06 November 1994 ini menetap jauh di kawasan pedalaman. Untuk menelepon meminta bantuan tidaklah mungkin, karena tak ada sinyal. 

Sedangkan rumah sakit atau fasilitas kesehatan cukup jauh, harusmembawa sepeda motor, melintasi jalan tanah berlumpur di tengah derasnya hujan.

“Saya hanya bisa mengadu kepada Allah,” ujar Bima, sambil terus berdoa agar pertolongan segera tiba.

Benar saja, doa pembina mualaf Suku Anak Dalam (SAD) benar-benar diijabah Allah. 

Di depan rumahnya tiba-tiba lewat puluhan mobil berjenis hardtop. Rupanya ada komunitas mobil offroad tengah berpetualang merasakan sensasi ekstrem jalanan di pedalaman Jambi.

Bima segera berteriak meminta bantuan. Bak gayung bersambut, komunitas itu dengan sigap mengantarkan anaknya hingga mendapatkan perawatan kesehatan.

Terpaut Hati

Segala pengalaman dan ujian Bima dan istrinya saat berdakwah, semakin menambah keyakinan bahwa Allah selalu menemani hamba-hamba-Nya yang berjuang untuk agama-Nya.

Kepada MULIA ia menceritakan bagaimana awalnya bisa sampai ke pedalaman Jambi. Kisahnya, bermula ketika Bima mengunjungi kampung SAD yang sedang ada proyek pembangunan masjid untuk Pesantren Mualaf Hidayatullah.

Beberapa kali berkunjung, ia trenyuh melihat kondisi pendidikan anak-anak di tempat terpencil, –yang minim pendidikan agama. Hal ini membuat hatinya tergerak ingin mengajar. 

Tahun 2020, Bima memboyong keluarga kecilnya menetap di kampung itu. Tepatnya di Desa Adat, Brumbung Bandung Tigo – Kejasung – Bukit XII, Kabupaten Batanghari, Jambi.

“Kami meneruskan perjuangan dua orang guru kami yang sudah berjasa membina 300 mualaf di sini lebih dulu,” ungkap suami dari Makhdareka tersebut.

Perjalanan menuju perkampungan SAD membutuhkan nyali dan pengorbanan. Dibutuhkan nyali kuat  masuk wilayah ini. Inilah sebabnya daerah ini digemari para pecinta offroad.

Perjalanan dari Kota Jambi ke lokasi memakan waktu perjalanan sekitar 7 jam, jika cuaca sedang baik. Di musim penghujan, jalanan berlumpur dan hanya kendaraan khusus yang bisa masuk, itupun memakan waktu hingga 10 jam. 

Melahirkan di Hutan

Kini, bersama keluarganya Ustadz Bima sehari-hari mengajar anak-anak SAD. Selain memberi pendidikan umum, ia juga mengajar ilmu dasar Islam. 

Di sore hari,  ia mengajar mengaji hingga waktu Isya’. Selain itu juga rutin mengisi khutbah Jumat dan kajian umum untuk kalangan mualaf.

“Setiap hari berjumpa dengan mereka, muncul rasa kebanggaan dan penuh syukur ketika melihat anak-anak yang sebelumnya tidak bisa membaca, menulis, berhitung, mengaji, dan shalat, kini mereka sudah bisa,” tuturnya.

Jangan bayangkan tempat belajar kayak di sekolah umum. Anak-anak SAD belajar beralaskan tanah dan berdinding kayu.  

“Melihat mereka semangat sekali menuntut ilmu, saya malu jika tidak semangat mengajar,” terangnya.

Bima berharap, di antara anak-anak itu nantinya bisa meneruskan berdakwah dan bisa kembali ke kaumnya menunjukkan indahnya Islam.

Meskipun sebagian warga sudah mualaf, sisa-sisa kepercayaan pada ajaran nenek moyang yang tidak sejalan dengan syariat masih tetap ada.

Di antara keyakinan itu adalah jika ada wanita yang mau melahirkan, tidak boleh di rumah. “Ia harus dibawa ke tengah hutan dan hanya dibolehkan berdua saja sama dukunnya. Bahkan kadang ada yang melahirkan sendirian,” ungkapnya.

Dengan pendekatan yang baik, masyarakat bisa menerima dakwah Bima dengan terbuka.  “Alhamdulillah, sedikit demi sedikit kami bisa merubah pola pikir mereka terhadap kepercayaan nenek moyang seperti itu,” ungkapnya.

Saking dekatnya, sering masyarakat mengiriminya buah-buahanan dan makanan. 

Kendala Transportasi

Salah satu suka duka mengajar di pelosok hutan Jambi adalah masih banyaknya warga suku hidup terasing. Sementara untuk menjangkau mereka semua,  ada kendala jarak dan minimnya transportasi.

“Sebelum memiliki sepeda motor kami tidak bisa mendatangi SAD di pelosok hutan, dan mengajak anak-anak untuk belajar,” paparnya.

Setelah ada bantuan sepeda motor trail dari YBM BRILiaN, persoalan sarana transportasi sudah mulai bisa teratasi.

“Kami bersyukur dengan adanya bantuan motor dakwah ini,” ujarnya,  menambahkan ia kini bisa mengunjungi satu titik binaan dakwah yang jaraknya 350 KM. 

“Itupun harus menyeberangi Sungai Batanghari, masuk hutan, melewati jalan terjal berlumpur yang kanan dan kirinya jurang. Jadi, bantuan ini sangat bermanfaat bagi dakwah kami,” ungkapnya.

Ia juga bersyukur dan mengucapkan terima kasih kafalah dan bantuan operasional dakwah dari para donatur. “Kalau dulu harus banting tulang menafkahi keluarga, sekarang lebih fokus berdakwah,” ujarnya.*/Siraj el-Manadhy