Ia berdakwah dari pintu ke pintu, dulu banyak yang suka mabuk-mabuk, sekarang mulai berkurang
Malam itu Ustadz Lalu Fadli Said diundang warga untuk menghadiri hajatan di sebuah kampung di Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Biasanya hajatan selalu dimeriahkan dengan serakalan, yaitu melantunkan shalawat Nabi bersama-sama.
Di tengah hajatan, salah satu temannya yang memimpin shalawat mengambil ceret yang telah disediakan dan menuangkan isinya ke dalam gelas, lalu meminumnya.
Tiba-tiba ia memuntahkan air yang baru diteguknya. Sontak saja, kejadian itu membuat Fadli dan warga yang hadir kaget.
Rupanya, isi ceret yang dikira berisi teh manis, ternyata berisi minuman keras (miras).
“Saat itu saya marah besar kepada masyarakat, saya sampaikan bahwa jangan pernah ada lagi acara seperti ini yang disajikan tuak atau minuman keras, karena ini haram hukumnya,” katanya.
Namun warga mengatakan, ini tradisi lama. Kejadian itu telah menjadikan Fadli terus berjuang menghilangkan tradisi keliru, hingga akhirnya, ceret-ceret itu kini berisi air mineral atau teh manis.
Pesantren masyarakat
Kedatangan pria kelahiran 14 April 1975 ini bermula saat gempa Lombok tahun 2018. Saat itu ia turut andil menjadi relawan membantu masyarakat, membagikan makanan hingga pakaian untuk pengungsi.
Ia paham betul, di masa-masa sulit itu, banyak pengungsi tidak melaksanakan shalat lima waktu.
“Itu membuat kami sangat prihatin. Kenapa ketika masyarakat diuji Allah dengan gempa tetapi mereka tidak shalat?” gugatnya.
Rupanya, kebanyakan masyarakat bawah yang dilihatnya ketika itu hanyalah Islam KTP saja. Fenomena ini menjadikan dia bersama kawan-kawannya menginisiasi Pesanmas atau Pesantren Masyarakat.
Setelah izin kepada tokoh masyarakat, tokoh pemuda setempat, tak lupa ia juga meminta bantuan masyarakat mengenalkan program ini.
Pesanmas, akhirnya digelar sebelum Maghrib hingga usai shalat Isya.Kegiatannya adalah sholat berjamaah, belajar al-Qur’an, pengajian, pemahaman akidah hingga makan bersama.
Awalnya hanya diikuti 10 anak. Kegiatan Pesanmas dilakukan dengan sistem berpindah-pindah tempat, dari satu kampung ke kampung lainnya.
Dengan izin Allah, lambat laun berjalan dengan baik, termasuk perubahan di masyarakat.
“Masyarakat mulai rajin shalat, yang perempuan mulai berhijab, dan pengajian mulai berjalan lancar,” katanya.
Namun setiap perjuangan punya masalahnya sendiri. Ia mengaku tak punya sarana tempat untuk menetap, juga keterbatasan armada dakwah yang bisa menjangkau lokasi-lokasi jauh.
Sekali lagi atas izin Allah, rezeki dibukakan padanya. Bersama kawan-kawan seperjuangan, ia mendapatkan tanah wakaf seluas 2 hektar di Desa Belanting.
Lahan ini dikelola menjadi rumah Al-Qur’an dan pondok pesantren, sekaligus pusat kegiatan dakwahnya. Di tempat ini, ia dan teman-temannya mengumpulkan anak-anak setiap kampung, dan mengajarinya agama.
“Kita akan mengajari Al-Quran, akidah, kita bantu terus sekolah sampai ke perguruan tinggi. Agar bisa kembali ke kampung mereka masing-masing untuk melanjutkan dakwah,” paparnya.
Dari pintu ke pintu
Meski sekarang sudah ada markas dakwah dan membina anak-anak di sana, Fadli tetap gencar berdakwah ke kampung-kampung, bahkan dari rumah ke rumah untuk mengajarkan al-Qur’an dan menanamkan Tauhid.
“Dalam berdakwah kami selalu mengedepankan akhlakul karimah. Mengutamakan hal-hal yang bisa diterima tanpa bertentangan dengan syariat. Alhamdulillah, masyarakat menerima karena kita tidak pernah berbicara perbedaan dan lebih banyak membahas persamaan,” akunya.
Fadli bercerita, salah satu tantangan dakwahnya adalah kondisi medan dakwah yang kurang baik. Selain jaraknya saling berjauhan, jalananan masih banyak yang bebatuan, terlebih lagi banyak kelok dan berbukit.
Selama ini, Fadli hanya mengandalkan motor tuanya untuk berdakwah. Itupun sering mogok di tengah jalan.
Pernah saat mau khutbah Jum’at di sebuah desa, ia tiba saat adzan sudah berkumandang. Sementara ia harus bersiap wudhu dan tidak ada imam atau khatib pengganti.
“Sejak pengalaman itu, kalau menjadi khatib Jum’at ia memilih datang hari Kamis sore agar tidak mengalami kejadian serupa gara-gara motor mogok,” ungkapnya.
Fadli sangat bersyukur mendapatkan bantuan motor dakwah dari Laznas BMH dan YBM BRILiaN. Kini, motor baru tersebut semakin memperlancar kegiatan dakwahnya.
“Kami sudah tak khawatir lagi akibat motor mogok. Bahkan sehabis mengisi kajian malam Jum’at, bisa pulang karena esoknya hari jadi khatib Jumat,” ucapnya.
Kini dakwahnya semakin intens dan mampu menjangkau kampung-kampung pedalaman yang sangat membutuhkan kehadiran seorang dai.
Atas kehendak Allah pula, perlahan masyarakat yang ia diami kini menjadi semakin santri. Semakin banyak warga belajar ilmu agama, rajin shalat, dan mengaji.
Para wanitanya semakin rapi berpakaian islami, dan anak-anak merasakan pendidikan Islam. “Alhamdulillah, dulu banyak yang suka mabuk-mabuk, sekarang mulai berkurang. Kami memohon doa agar diberikan istiqamah dalam menjalankan dakwah ini,” tutupnya.*/Siraj el-Manadhy