Kisah Nabi Yusuf As mengajarkan kita bahwa penderitaan manusia zaman batu juga sama dialami manusia saat ini
Oleh: Sarah Zakiyah
Deretan buku berbagai judul berbaris rapi di rak sebuah toko buku. Banyak dari judul buku membahas perbaikan diri, tentang cara mengatasi penyakit jiwa yang banyak melanda manusia saat ini.
Tema yang banyak adalah; kecemasan, putus asa, kesedihan, stress, trauma, overthingking, dan lain sebagainya.
Manusia yang hidup di era modern ini sesungguhnya sama dengan manusia yang hidup di era lalu, saat komunikasi antarmanusia masih dilakukan secara tradisional.
Sama dengan manusia di zaman batu yang menjalani kehidupannya secara primitif. Persamaan yang ada adalah dalam hak, kewajiban, sifat dasar, dan perilaku.
Karena sebab persamaan sifat manusia yang tidak berubah dari zaman ke zaman inilah, Al-Qur’an diturunkan, yang isinya memuat berbagai kisah kehidupan manusia dari berbagai zaman.
Sebuah kisah terbaik ditulis dalam Al-Qur’an, yakni Surah Yusuf. Allah Swt menceritakan kisah Nabi yang sangat tampan tersebut dengan begitu detail.
Seorang nabi yang mengalami dan menghadapi banyak hal yang menyedihkan dalam hidupnya. Beliau dibenci oleh kakak-kakaknya hingga mengalami perundungan sampai percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh saudara-saudaranya sendiri.
Beliau terbebas dari maut, menjadi korban human trafficking (perdagangan manusia), hingga hidup di istana sebagai pembantu.
Tak hanya itu, beliau menghadapi tuduhan keji istri pejabat, hingga menyebabkannya masuk penjara.
Penderitaan demi penderitaan hidup dirasakan oleh Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Di akhir kisah, Nabi yang memiliki nasab mulia ini sama sekali tidak mencela siapapun yang menjadi penyebab penderitaan yang beliau alami.
Beliau justru memaafkan perbuatan buruk kakak-kakaknya dan memberikan mereka kehidupan yang layak saat beliau telah memiliki kedudukan dan jabatan tinggi di Mesir.
Kisah Nabi Yusuf As mengajarkan kepada kita bahwa penderitaan yang dialami oleh manusia dahulu dialami pula oleh manusia saat ini.
Perasaan sedih, marah, kecewa, cemas, tidak menjadikan Nabi Yusuf putus asa atau menyimpan dendam kepada manusia lainnya.
Beliau bahkan selalu berhunudzan kepada Allah Swt. bahwa setiap peristiwa yang dialami adalah takdir yang menjadikannya kuat, siap menghadapi gelombang kehidupan yang lebih besar lagi, yaitu risalah kenabian, menyampaikan ketauhidan kepada umat manusia.
Dalam menepis perasaan-perasaan yang menghantui jiwa, Rasulullah ﷺ telah mengajarkan kepada kita sebuah doa yang diajarkan kepada seorang sahabat yang sedang sedih karena hutang.
Sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu mengisahkan kisahnya. Doa tersebut dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ untuk dibaca setiap pagi dan sore. Doa tersebut adalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kegundahan dan kesedihan dan aku berlindung kepadaMu dari kelemahan dan kemalasan dan aku berlindung kepadaMu dari sifat penakut dan bakhil dan aku berlindung kepadaMu dari terlilit hutang dan pemaksaan dari orang lain.”
Kisah nabi Yusuf bukan satu-satunya kisah yang memberikan makna bagi kehidupan manusia. Banyak kisah yang harus selalu diulang agar menjadi obat bagi setiap penyakit jiwa/ mental yang dialami manusia, sebagaimana Al-Qur’an adalah obat bagi berbagai jenis penyakit hati (syifa limaa fishuduur). Wallahu a’lam.*