Menegur dengan Sindiran

Sebagai pendidik, salah satu keistimewaan Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah mempermalukan seorang di kalangan sahabatnya

Salah satu metode tarbiyah Nabi adalah menegur kesalahan sahabat dengan sindiran atau isyarat. Jika beliau melihat suatu kekeliruan dari para sahabatnya atau ingin mengarahkan kepada kebenaran, beliau menegur tanpa  menyebut nama secara langsung. 

Rasulullah menyampaikan teguran dan nasehat dengan menggunakan bahasa yang dapat menutupi aib para sahabatnya.  

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Rasulullah mempekerjakan salah seorang dari Suku Asad yang  bernama Ibnu Luthbiyah untuk mengumpulkan zakat dari kaum muslimin. 

Ketika menyetorkan hasil pengumpulan zakat kepada Rasulullah ia berkata: “Ini untuk kalian dan ini untukku pemberian orang kepadaku.”. Kemudian Rasulullah ﷺ berdiri di atas mimbar dengan memuji dan menyanjung Allah seraya bersabda: “Apa alasan seorang yang aku utus (untuk mengumpulkan zakat) kemudian ia berkata: “Ini untuk kalian dan ini untukku pemberian orang kepadaku. Mengapa ia  tidak duduk-duduk di rumah bapak dan ibunya saja kemudian orang mengantarkan hadiah kepadanya?, Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seseorang di antara kalian tidak akan mendapatkan sesuatu darinya (penggelapan zakat) melainkan ia akan datang di hari kiamat dengan memikul unta  yang bersuara di lehernya, atau sapi yang menguak atau domba yang mengembek. (Shahih Muslim, Kitab al Imarah, no. 1832, 3/1463). 

Di antara sikap agung Baginda Nabi sebagai pendidik, beliau tidak pernah mempermalukan seorang pun di kalangan sahabatnya. 

Beliau adalah pribadi yang selalu menjaga perasaan para sahabatnya,  beliau sangat faham akan akibat yang ditimbulkan apabila beliau terang-terangan menegur dan menyalahkan sahabatnya di depan umum. 

Sebab, pada dasarnya, setiap orang akan merasa malu apabila ia ditegur sambil menyebut namanya di depan umum. 

Karenanya Ibnu Rajab berkata: “Dahulu para salafus shalih apabila ingin menasihati seseorang, maka ia akan menasihatinya secara sembunyi-sembunyi.” (Muhammad Abu Sha’ilaik, Fiqh an Nashihah, hal. 6). 

Imam Syafii berkata dalam syairnya:

Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri,

Jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian,

Sesungguhnya nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk sesuatu pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya,

Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku,

Maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti. (Muhammad bin Idris As Syafii, Diiwan Imam as Syafi’i,  hal. 63). 

Ketika menasehati sahabatnya, Rasulullah ﷺ kerap kali menggunakan kalimat ta’mim yaitu teguran secara umum kepada semua orang. 

Penggunaan kalimat ta’mim bertujuan untuk menutupi aib orang yang membuat kesalahan, juga sebagai bentuk kasih sayang beliau kepada orang tersebut dan diharapkan ia tidak mengulangi kesalahannya pada waktu mendatang.

Di antara hikmah penggunaan kalimat bersifat umum (ta’mim) dalam menyampaikan nasehat agar nasihat sampai pada “pelaku kesalahan” sekaligus pada semua orang, yang mendengar secara langsung maupun tidak. 

Imam Nawawi menuturkan: Lebih baik menghindari cara menasihati secara terang-terangan di depan umum selama hal itu tidak diperlukan, dan nasihat itu harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi (empat mata) agar nasihat itu lebih mudah diterima.” (Majmu’ah min al Bahitsin, al Mausu’ah al ‘Aqadiyah, 8/207).

Demikianlah cara Nabi ﷺ mendidik sahabatnya, menegur dan menasehati mereka dengan penuh kesantunan, tidak mempermalukan dan menjatuhkan. Wallahu Ta’ala A’lam.*