Mendidik Zuhud, Menjernihkan Hati 

Umar bin Khattab r.a menangis melihat Baginda Nabi berbaring di atas tikar jerami,  bertolak belakang dengan penguasa Persia dan Romawi 

Oleh: Dr. Nashirul Haq, Lc., MA

Zuhud kerap disalahartikan sebagai hidup miskin atau menjauhi dunia sepenuhnya. Padahal, hakikat zuhud melepaskan ketergantungan hati dari dunia dan lebih mengutamakan akhirat. 

Dalam bahasa, zuhud berarti meninggalkan ketergantungan; secara istilah, menjauhi maksiat serta tidak menggantungkan diri pada hal-hal duniawi.

Sufyan ats-Tsauri menyebut zuhud sebagai “terbatasnya angan-angan” (Madarij as-Salikin, 2/12), sementara al-Junaid menyebutnya sebagai sikap menganggap kecil dunia dan menghapus pengaruhnya dari hati (Kitab az-Zuhd al-Kabir, hal. 66).

Lebih dalam Yunus bin Maisarah menjelaskan: “Zuhud bukan berarti mengharamkan yang halal atau meninggalkan harta, melainkan keyakinan bahwa apa yang di tangan Allah lebih bernilai daripada apa yang di tangan manusia. Saat diuji dan saat lapang, sikapmu tetap sama. Pujian dan celaan orang tidak memengaruhimu selama dalam kebenaran.” (Syu’ab al-Iman, no. 9597, 12/385).

Dunia: Antara Ujian dan Ketertipuan

Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka… Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)

Ibnu Jarir at-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini adalah peneguhan hati Rasulullah ﷺ agar tidak tergoda oleh gemerlap dunia yang diberikan kepada orang kafir. Itu hanyalah ujian fana; kenikmatan akhirat jauh lebih kekal (Tafsir at-Thabari, 18/403).

Keteladanan Rasulullah ﷺ dalam Zuhud

Nabi ﷺ mengajarkan sikap zuhud secara lisan dan perbuatan. Beliau bersabda yang artinya:  “Berlakulah zuhud dalam urusan dunia niscaya kamu akan dicintai Allah, dan zuhudlah kamu terhadap apa yang dimiliki orang lain niscaya kamu akan dicintai manusia.” (Sunan Ibn Majah).

Syekh Muhammad al-Amin mengatakan, hati adalah “rumah Allah”, dan tidak pantas dipenuhi dengan syahwat dunia yang menduakan-Nya (Syarh Sunan Ibn Majah).

Rasulullah ﷺ juga bersabda, yang artinya; “Seandainya dunia di sisi Allah nilainya seperti sayap nyamuk, maka Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir walau seteguk.” (Sunan at-Tirmidzi)

Umar bin Khattab r.a menangi melihat Nabi ﷺ berbaring di atas tikar jerami. Bertolak belakang dengan penguasa Persia dan Romawi. Nabi ﷺ menjawab:

“… Apa arti dunia bagiku? Aku di dunia ini hanyalah seperti musafir yang berteduh di bawah pohon lalu pergi meninggalkannya.” (Sunan at-Tirmidzi)

Para sahabat pun hidup dalam semangat zuhud. Abdullah bin Mas’ud berkata: “Kalian (tabi’in) lebih banyak ilmunya, tapi sahabat lebih baik karena mereka paling zuhud terhadap dunia dan paling mencintai akhirat.”

Zuhud bukan berarti menolak dunia, tapi menempatkannya secara proporsional. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia…” (QS: Al-Qashas: 77). 

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah,  zuhud mengubah cara pandang terhadap dunia dan meningkatkan pandangan terhadap akhirat. (Al-Fawaid, hal. 94)

Menanamkan Zuhud pada Generasi

Orang tua, guru, dan para dai memiliki tanggung jawab menanamkan nilai zuhud pada generasi muda. Mereka perlu diajari bahwa dunia ini hanyalah tempat singgah, dan akhiratlah tujuan sejati. 

Dengan zuhud, seseorang akan lebih mencintai ibadah dan amal saleh, serta menjauhi tipu daya dunia yang menyesatkan. Wallahu Ta‘ala A‘lam.*

Penulis Ketua Umum DPP Hidayatullah