Memberi Pemahaman, Bukan Mendekte!

Metode memahamkan jauh lebih baik daripada doktrin (tafhim la talqin)

Islam bukan sebatas teks yang dibaca dan dihapal, tetapi juga ruh yang membangkitkan kehidupan serta cahaya yang menyinari jalan umat manusia. Karenanya tidak tepat seorang dai terlalu banyak menggunakan metode talqin atau doktrin. 

Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS Al Israa’: 36) 

Metode hapalan dan indoktrinasi membiasakan objek dakwah untuk mendengar, lalu menghapal tanpa harus memahami makna dan subtansinya. 

Metode seperti ini tidak memotivasi objek dakwah untuk bersikap kritis dan menganalisa materi yang diterimanya. Namun demikian hapalan cocok untuk dalil-dalil al-Qur’an dan hadits.

Terlebih tuntutan zaman modern saat ini orang membutuhkan pendekatan dakwah yang memadukan antara metode hapalan, doktrin, kajian dan analisa. 

Agar objek dakwah memperoleh pemahaman yang baik sehingga menerima ajaran Islam secara sadar dan sukarela , maka dai dituntut menggunakan berbagai metode yang menarik dan tidak membosankan, antara lain: 

Memberi penjelasan mudah 

Salah satu kesuksesan penyampaian materi dakwah adalah harus bisa dipahami semua kalangan. Karenanya perlu menjelaskan nilai-nilai dan konsep-konsep dalam ajaran Islam dengan cara yang praktis, ringan, dan mudah. 

Berbicara kepada anak-anak dengan bahasa yang sederhana, bagi orang dewasa bisa dengan bahasa yang lebih kompleks. 

Diskusi dan dialog 

Mendorong interaksi dua arah, antara dai dan audiens, membuka ruang pertanyaan, klarifikasi, pertukaran ide dan gagasan. 

Suatu ketika Rasulullah ﷺ bertanya kepada Sahabat tentang orang yang bangkrut. Mereka menjawab bahwa orang bangkrut adalah yang tidak memiliki dirham dan harta. Lalu beliau  bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan salat, puasa, dan zakat, tetapi dia juga datang dengan membawa dosa-dosa yang disebabkan karena mencaci maki orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain tanpa hak, menumpahkan darah orang lain, dan memukul orang lain. Maka, amalannya akan diberikan kepada orang-orang yang dia zalimi itu. Jika amalannya habis sebelum dapat membayar kepada orang-orang yang dizalimi, maka dosa orang-orang yang dizalimi akan ditimpakan kepadanya. Kemudian, dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” (Sunan at Tirmidzi, no. 2418, Abwab Shifati al Qiyamah, Bab Ma Ja’a fi Sya’ni al Hisab, 4/613). 

Menumbuhkan kemandirian berpikir 

Pemahaman yang baik akan menumbuhkan kemandirian berpikir, merenungkan materi yang diterima sehingga mendorong berpikir kritis. Selanjutnya objek dakwah mengambil keputusan berdasarkan pemahaman dan kesadaran, bukan sekedar mengikuti tanpa disertai pertanyaan atau biasa diistilahkan dengan taklid buta.

Membangun kemandirian berpikir merupakan salah satu aspek penting dalam dakwah.  Tujuannya demi mendorong umat, baik individu maupun kelompok agar tidak hanya menerima pesan dakwah secara pasif, namun perlu dibangun kemampuan berpikir kritis agar lebih menguatkan keimanan dan pengamalan ajaran Islam.  

Melalui kaidah dakwah ini, yakni memahamkan dan bukan mendoktrin (tafhim la talqin), maka seruan dakwah akan lebih efektif, karena subtansi ajaran Islam akan dipahami dan diterima dengan penuh keyakinan dan kesadaran. Wallahu Ta’ala A’lam.*