Kashgar dulunya menganut Zoroastrianisme dan Buddha. Islam datang membawa perubahan spiritual dan sosial, melekat dengan identitas kota ini
Masjid Id Kah adalah kompleks arsitektur kuno dengan gaya nasional dan keagamaan yang khas, mencerminkan seni arsitektur Uighur.
Masjid ini menjadi simbol Kota Kashgar dan terkenal baik di Tiongkok maupun di luar negeri.
Cikal bakal Masjid Id Kah bermula pada masa Dinasti Ming (1436-1449), ketika penguasa Kashgar, Shaksez Mirza, dimakamkan di area tersebut.
Keturunannya kemudian membangun sebuah masjid kecil yang kelak berkembang menjadi masjid besar yang kita kenal hari ini. Pada tahun 1426, sebuah kompleks pemakaman dan masjid kecil didirikan sebagai tempat peristirahatan bagi pemimpin Kashgar dan Yarkand abad ke-15.
Perkembangan masjid ini semakin pesat setelah seorang wanita Muslim bernama Galera mendonasikan dana pada tahun 1788 untuk memperluas bangunan, yang kemudian dikenal sebagai Masjid Id Kah—berasal dari bahasa Arab dan Persia yang berarti “tempat untuk Id.”
Pada tahun 1801, seorang dermawan lain bernama Puwier Beyod menyumbangkan tanah seluas 40 hektare untuk masjid ini. Seiring waktu, masjid ini semakin diperindah dengan tambahan ruang wudu, menara, serta asrama untuk 400 siswa pada tahun 1876.
Musibah gempa bumi tahun 1900 sempat merusak bangunan ini, tetapi berkat donasi dan kerja keras umat Muslim, Masjid Id Kah berhasil dipulihkan dan tetap berdiri megah hingga kini.
Dengan luas 17.000 meter persegi, masjid ini menjadi salah satu yang terbesar di Tiongkok dan sejak tahun 1962 ditetapkan sebagai bangunan bersejarah yang dilindungi pemerintah.
Masjid Id Kah bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan keagamaan, budaya, ekonomi, dan sosial masyarakat Muslim Uighur.
Setiap hari, sekitar 2.000-3.000 orang datang untuk shalat, dan pada hari Jumat jumlahnya bisa mencapai 6.000-7.000 orang.
Pada perayaan besar seperti Idul Adha, jumlah jamaah dapat mencapai 20.000-30.000 orang.
Selain Masjid Id Kah, Kashgar juga memiliki Mausoleum Afak Khoja yang dibangun pada tahun 1640, mencerminkan perpaduan arsitektur Islam dan Tiongkok dengan kubah hijau mencolok serta ubin berlapis kaca yang indah.

Islam di Kashgar
Kashgar telah menjadi pusat penting di Jalur Sutra karena lokasinya yang strategis di perbatasan Kirgizstan, Tajikistan, dan Afghanistan.
Islam pertama kali masuk ke Kashgar pada tahun 711 M ketika pasukan Arab di bawah Qutaibah Ibnu Muslim masuk wilayah ini.
Namun, Islam benar-benar mengakar di Kashgar pada abad ke-10 di bawah kekuasaan Dinasti Karahanid.
Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Kashgar menganut Zoroastrianisme dan Buddha. Masuknya Islam membawa perubahan besar dalam kehidupan spiritual dan sosial masyarakat, menjadikan Islam sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas kota ini.
Hingga kini, Kashgar tetap mempertahankan suasana Islami dengan lorong-lorong sempit yang berliku, bazar tradisional, dan aroma rempah-rempah yang khas.
Bahkan kuliner Kashgar ikut dipengaruhi budaya Timur Tengah, dengan daging domba sebagai bahan utama dalam hidangan seperti kebab dan nasi pilaf.
Modernisasi datang, namun kota ini tetap mempertahankan warisan Islam dan budaya Timur Tengah yang kental. Dan kota ini tetap menjadi benteng terakhir Islam di Tiongkok.*