“Pulau dalam pulau” ini tetap bertahan dengan identitas Islam di tengah kepungan mayoritas Kristen Ortodok
Udara dingin dan kering menyambut saya ketika pertama kali melangkahkan kaki ke kota Harar, sebuah kota tua yang dikelilingi tembok batu dan sejarah panjang.
Di kejauhan, suara adzan berkumandang dari menara masjid nomor 82—bersahutan dengan lonceng gereja di kota Kristen sebelahnya.
Anak-anak bermain ramai, dan senyum ramahnya menyapa dengan salam hangat, “Salaam!”
Di Pasar Makon, WTO G (35), seorang wanita tangguh yang sehari-hari berjualan khat—tanaman stimulan yang menjadi napas ekonomi Harar. “Saya menjual 10 kg khat setiap hari. Ini menghidupi keluarga saya,” katanya sambil menata daun-daun hijau segar di lapaknya.
“Harar bukan hanya kota,” katanya sambil membentangkan selembar naskah kuno di atas meja. “Ia adalah sumsum dari Islam di Afrika Timur,” tambahnya.
Khat kadang disebut daun qat (nama ilmiahnya catha edulis), adalah tanaman yang biasa dikunyah penduduk Ethiopia. “Khat bukan sekadar daun, ini bagian dari DNA kami,” jelas seorang pedagang di pasar.
“Tapi efeknya dua sisi—membuat produktif tapi juga menyebabkan impotensi dan depresi,” demikian peringatan Dr. Aminah, seorang dokter setempat.
Penduduk menyebut Harar adalah “Makkahnya Afrika”. Ini bukan tanpa dasar, sebab kota ini kaya tradisi dan khasanah Islam-nya.
Di kota ini, ada lebih dari 80 masjid—termasuk yang tertua dibangun pada abad ke-10— lebih dari 100 tempat dzikir, serta ribuan manuskrip kuno mendokumentasikan ajaran Islam dari berbagai generasi.
“Masjid kami kecil-kecil, tapi penuh barokah,” ujar Ustaz Abdul Rahman, Imam Masjid Jami Harar kepada Channel New Atlantis Full Documentaries.
Harar seperti oasis Islam yang terpisah. Ia hidup di tengah kepungan tapi tetap kuat memegang identitas Islam. Maklum, Ethiopia adalah negara mayoritas Kristen Ortodoks.
“Kami minoritas di tanah sendiri,” ujar Fatuma Mohammed, guru sekolah dasar. “Tapi kami tetap menjaga Harar seperti menjaga Ka’bah kecil,” tambahnya.

Kota Mini dan Warisan Cinta
Berlokasi 525 km dari Addis Ababa, Harar adalah kota kecil berpopulasi sekitar 150.000 jiwa. Kota tua Harar Jugol—adalah warisan dunia UNESCO—dikelilingi tembok sepanjang 3,5 km dengan lima gerbang utama.
Menurut manuskrip Tarikh al-Harar, pemukiman awal dibangun oleh suku Harla (etnis Afro-Asiatik).
Yang menarik, meski Harar didonimani Kristen Ortodoks, tempat ini memiliki lebih banyak masjid dibanding gereja—fenomena langka di Ethiopia. Bahkan ada kepercayaan lokal setiap keluarga Muslim wajib menjaga satu masjid.

Maka jangan heran bila dalam satu gang sempit, berdiri tiga masjid mungil berdampingan. “Kami hidup bersama,” kata Abdella Yusuf, penjual kopi di Pasar As-suq.
Meski mayoritas Kristen, Islam sangat terasa. Perempuan dengan jilbab warna-warni, dan anak-anak belajar al-Quran selepas Subuh adalah pembandangan biasa.
Menurut para antropolog, Harar diistilahkan “pulau Islam di tengah laut Kristen Ethiopia”. “Harar adalah pulau dalam pulau,” ujar Dr. Ahmed Nur, antropolog lokal.
Harar bukan hanya kota, ia adalah benteng identitas. Dikepung dari segala arah, Harar bertahan dengan modal tradisi, iman, keramahan tanpa bentrokan agama.
“Kami bukan museum. Islam di Harar adalah pohon yang akarnya dalam tapi daunnya terus tumbuh,” kata Imam Hassan, seorang Imam di Masjid Jami Harar. []