Kurban:  Teladan Keluarga Pejuang 

Idul Adha menjadi pelajaran bagi manusia akan kesabaran bapak para pejuang bergelar khalilullah (Sahabat Allah), agar jadi tauladan manusia

Dzulhijah adalah bulan istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia karena ada perayaan Idul Adha Adha atau Hari Raya Kurban. 

Di antara pesan penting Hari Raya Kurban adalah  persatuan ummah (umat). Meskipun umat Islam di seluruh dunia terdiri dari berbagai ras, bahasa, warna kulit, budaya dan negara, mereka kompak menyembah dan mengangungkan Allah SWT. 

Firman Allah SWT dalam Surat Ali Imran ayat 103 mengatakan yang artinya : “Dan hendaklah kamu berpegang teguh pada tali Allah (agama Islam) dan jangan sampai tercerai-berai.” 

Selain menjaga kesatuan dan persatuan umat,  kita diajarkan oleh Islam  bahwa status dan kedudukan semua manusia sama di sisi Allah SWT. Yang membedakan hanya takwa yang dimilikinya. 

Hanya saja untuk bisa bersatu dan mencapai level takwa,  perlu kerelaan berkurban dan kerja sama berkelanjutan dari semua pihak. 

Perayaan Idul Adha juga menjadi hari bagi seluruh umat Islam untuk mengagungkan nama Allah dengan mengucapkan takbir, tahmid dan tasbih serta untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Tanda Ketakwaan

Ibadah kurban merupakan amalan yang sangat dituntut dalam Islam. Tujuannya sebagai amalan mendekatkan diri kepada Allah SWT, yang ditetapkan pada tahun kedua Hijrah.

“Kurban” artinya nama sesuatu yang dikurbankan, atau nama hewan ternak yang disembelih pada hari Idul Adha. Berkurban artinya menyembelih hewan ternak tertentu dengan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT pada waktu-waktu tertentu.

Penyembelihan hewan kurban merupakan salah satu amalan sunah yang sangat dianjurkan dalam Islam oleh orang-orang yang mampu. 

“Sesungguhnya Kami telah melimpahkan kepadamu (wahai Nabi Muhammad) nikmat yang banyak (termasuk sungai al-Kautsar di surga), .  Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (karena mensyukuri nikmat-Nya).” (Surat al-Kautsar ayat 1-2). 

Ibadah kurban juga dianggap cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan dapat menjadi salah satu tolak ukur ketakwaan seorang hamba padaNya.

Hal ini berdasarkan firman Allah dalam Surat al-Maidah ayat 27 yang artinya; “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.” 

Pada ayat lain Allah Swt berfirman yang artinya; “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS: Al-Hajj: 37).

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ummul Mu’minin A’isyah R.Anha,  Nabi ﷺ bersabda yang artinya:

“Tidak ada amalan yang dilakukan oleh anak adam pada hari al-Nahr (Raya Idul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah selain daripada menumpahkan darah (binatang kurban). Sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat dengan tanduknya, bulunya dan kukunya dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada ridha Allah SWT sebelum ia jatuh ke bumi. Maka, bersihkanlah jiwa kamu (dengan berkurban).” (Riwayat al-Tirmizi).

Berkurban merupakan suatu sifat yang menjelaskan kerelaan, keberanian dan kemauan seseorang tanpa adanya paksaan. Berkurban dilakukan bukan untuk mendapatkan pujian manusia, namun untuk mendapatkan pengakuan dari Allah SWT.

Jika seseorang mencintai apa yang dimilikinya, maka sulit baginya untuk berkurban demi orang lain.

Haji

Idul Adha juga disebut Hari Raya Haji karena  sehari sebelumnya, yaitu pada 9 Dzulhijjah, jamaah haji di Tanah Suci wajib melaksanakan wukuf di Padang Arafah, merupakan rukun puncak ibadah haji.

Karenanya perayaan Hari Raya dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah pelaksanaan wukuf di Arafah.

Kesediaan dan kemauan mengorbankan harta duniawi itulah yang menjadi motivasi manusia untuk memenuhi gelombang ibadah menuju Ka’bah setiap tahunnya dalam bentuk ibadah haji.

Haji adalah simbol penyerahan diri. Semua dikurbankan –baik uang, harta benda, tenaga, waktu—bahkan meninggalkan istri dan anak tercinta demi berharap keridhaan Allah SWT.  

Teladan Keluarga Pejuang

Hari Raya Idul Adha adalah bagian dari anjuran untuk meneladani perjuangan, berkurban dan ketaatan Nabiullah Ibrahim ‘Alaihissalam dan keluarganya. Idul Kurban mengingatkan kita peristiwa Nabi Ibrahim a.s. yang diuji oleh Allah SWT dengan perintah menyembelih anaknya,  Nabi Ismail a.s. sebagaimana yang terekam dalam Surah as-Saffat, ayat 102, yang artinya: 

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Nabi Ibrahim  termasuk di antara para nabi yang diberi banyak ujian yang sangat berat. Namun setiap ujian dan tugas dapat dilaksanakan dengan sempurna atas dasar ketaatan dan keimanan yang teguh kepada Allah swt.

Nabi Ibrahim sudah lama menikah, namun belum juga dikaruniai anak. Meski begitu, beliau tak pernah putus asa dan selalu berdoa kepada Allah swt agar dikaruniai sosok shaleh dan taat yang senantiasa mendampinginya dalam ikhtiar dakwahnya.

Hal ini terekam dalam Surat as-Saffat ayat 100 yang artinya: “Ya Tuhanku, berilah ku anak yang shaleh.”

Maka  lahirnya Ismail lahir saat usia Nabi Ibrahim sudah 86 tahun dan kembali lahir Ishaq saat beliau berusia 100 tahun, sehingga keduanya terpaut sekitar empat belas tahun.

Baru saja mendapat kegembiraan, Allah Swt kembali memberi ujian berat. Allah Swt memerintahkan Ibrahim menyembelih anaknya sendiri. 

Nabi Ibrahim merupakan salah satu nabi Ulul Azmi yang memiliki tingkat kesabaran dan keuletan yang luar biasa. Karenanya beliau juga diberi gelar Khalilullah yang berarti ‘Sahabat Allah’.

Kisah ini menjadi wujud ketakwaan sebuah keluarga pejuang, dimana tercermin dari kegigihan seorang ayah, ketaatan seorang anak laki-laki dan kehebatan seorang istri sekaligus ibu dalam menaati perintah Allah SWT. []

Jendela 2

Hikmah Ibadah Kurban

Ibadah kurban mengajarkan dunia bagaimana menjaga keseimbangan dan bersikap ramah terhadap hewan

Setiap orang yang beriman akan selalu merindukan Kota Suci Makkah, tanah pembawa agama Islam yang didakwahkan melalui Baginda Nabi Muhamad ﷺ. 

Setiap Muslim yang baligh, berakal, merdeka  dan mampu, disyariatkan menjejakkan kaki mereka ke tanah suci sekurang-kurangnya sekali seumur hidup untuk menunaikan ibadah haji.

Bagi yang belum terpilih menjadi tamu Allah menunaikan ibadah haji, umat Islam tetap bisa mendapatkan banyak keistimewaan pahala melalui dengan hewan kurban.

Hikmah Ibadah Kurban

Di bawah ini di antara hikmah ibadah kurban; 

Pertama, bersyukur kepada Allah atas nikmat kehidupan yang diberikan. Kedua untuk meneladani ketaatan Nabi Ibrahim as saat diperintahkan menyembelih anaknya sendiri Ismail ‘alaihissalam.

Ketiga, meneladani kesabaran Nabi Ibrahim as dan Nabi Isma’il as dalam menunjukkan ketaatan pada Allah Swt.   

Keempat berbagi nikmat dan rezeki yang Allah berikan dengan orang lain. Ketika seorang Muslim menyembelih hewan kurban. 

Kelima,  ibadah kurban menjaga keseimbangan alam dan keramahan pada hewan. Menurut Organisasi Pangan Sedunia (FAO), skala kebutuhan konsumsi daging manusia sangat besar, sebanyak 360 juta ton daging setiap tahunnya.

Menurut FAO, sekitar 900.000 sapi disembelih setiap hari. Jika panjang satu sapi 2 meter dan mereka semua berjalan beriringan, maka barisan sapi tersebut akan terbentang sepanjang 1800 kilometer, mewakili jumlah sapi yang disembelih setiap hari.

Di Amerika Serikat saja, sekitar 25 juta hewan disembelih setiap hari di rumah potong hewan.  Rata-rata rumah potong hewan membunuh hingga 1.100 babi setiap jamnya.

Sayangnya, miliaran hewan di Barat menderita dan mati akibat teknik stunning (pemingsanan), pemukulan hebat di kepala, sengatan listrik, atau serangan gas. Tindakan-tindakan yang awalnya berharap memperlakukan hewan tidak merasakan sakit  justeru melahirkan aksi brutal.

Menariknya, Islam justeru mengajarkan cara memperlakukan hewan dengan cara yang baik (ihsan). Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya;  “Sesungguhnya Allah Swt. telah menetapkan perbuatan ihsan (baik) pada tiap-tiap sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik pula. Hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan sembelihnya.” (HR. Muslim).

Imam al-Nawawi Rahimahullah mengatakan, hendaknya hewan yang disembelih diistirahatkan dan mempercepat proses penyembelihan agar hewan tidak merasakan penderitaan. “Disunahkan tidak menajamkan pisau di depan hewan yang akan disembelih dan disunahkan juga dengan tidak menyembelih hewan di hadapan hewan yang lain.” (Syarah al-Nawawi ‘ala Muslim, Al-Nawawi (13/92).

Beginilah kemuliaan Islam. []